Ternak Tani – Di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan berkurangnya sumber daya fosil seperti minyak dan batu bara, dunia mulai beralih ke energi terbarukan. Menurut data dari International Energy Agency (IEA), sekitar 30% kebutuhan energi global pada tahun 2030 diprediksi akan berasal dari sumber energi bersih seperti matahari, angin, dan biomassa. Salah satu bentuk energi terbarukan yang menarik perhatian adalah biogas yang berasal dari limbah peternakan sapi.
Peternakan sapi di Indonesia memiliki potensi besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS, 2024), populasi sapi potong di Indonesia mencapai lebih dari 19 juta ekor. Jumlah ini menunjukkan bahwa limbah yang dihasilkan setiap hari juga sangat besar. Jika dikelola dengan baik, limbah ini tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga menghasilkan energi yang bermanfaat.
Apa Itu Energi Terbarukan dari Peternakan Sapi?
Energi terbarukan dari peternakan sapi umumnya berasal dari biogas, yaitu gas yang dihasilkan dari proses penguraian bahan organik (seperti kotoran sapi) oleh mikroorganisme dalam kondisi tanpa oksigen (anaerob). Gas utama yang dihasilkan adalah metana (CHβ) dan karbon dioksida (COβ).
Metana inilah yang memiliki nilai energi tinggi dan bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Satu ekor sapi dapat menghasilkan sekitar 20-30 kg kotoran per hari, yang mampu menghasilkan hingga 1 meter kubik biogas. Jumlah ini cukup untuk menyalakan kompor gas rumah tangga selama beberapa jam (Sumber: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, 2023).
Proses Pembuatan Biogas dari Kotoran Sapi
Proses pembuatan biogas sebenarnya cukup sederhana dan bisa dilakukan oleh peternak di pedesaan dengan biaya terjangkau. Berikut langkah-langkah utamanya:
-
Pengumpulan Kotoran Sapi
Kotoran sapi dikumpulkan setiap hari dari kandang. Untuk hasil optimal, kotoran dicampur dengan air dengan perbandingan 1:1 agar mudah dicerna oleh mikroorganisme. -
Fermentasi di Digester Biogas
Campuran kotoran dan air dimasukkan ke dalam tangki tertutup yang disebut digester. Di dalam digester ini, bakteri anaerobik bekerja memecah bahan organik dan menghasilkan gas metana. -
Pemisahan Gas dan Lumpur
Gas yang terbentuk akan mengalir ke tangki penampungan gas, sedangkan sisa cairan atau lumpur di dasar digester bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair. -
Pemanfaatan Biogas
Gas metana yang dihasilkan dapat disalurkan melalui pipa ke rumah tangga peternak sebagai bahan bakar untuk memasak atau menyalakan lampu.
Menurut Balai Penelitian Ternak (Balitnak, 2023), sistem biogas skala rumah tangga dapat menekan pengeluaran energi rumah tangga hingga 40% per bulan.
Manfaat Energi Terbarukan dari Peternakan Sapi
-
Mengurangi Ketergantungan pada Energi Fosil
Dengan menggunakan biogas, peternak tidak perlu lagi bergantung pada LPG atau bahan bakar minyak. Ini membantu pemerintah mengurangi impor energi fosil yang mahal dan tidak ramah lingkungan. -
Mengurangi Pencemaran Lingkungan
Limbah kotoran sapi yang dibiarkan menumpuk bisa mencemari air dan udara karena mengeluarkan gas metana secara langsung. Dengan teknologi biogas, gas metana dimanfaatkan menjadi energi, sehingga emisi gas rumah kaca berkurang. -
Meningkatkan Kesejahteraan Peternak
Peternak bisa menghemat biaya energi sekaligus mendapatkan pupuk organik gratis dari sisa fermentasi. Bahkan, jika dikelola dalam skala besar, biogas dapat dijual ke masyarakat sekitar. -
Mendukung Pertanian Berkelanjutan
Limbah biogas yang berbentuk lumpur kaya akan unsur hara seperti nitrogen dan fosfor, sehingga dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman tanpa pupuk kimia. -
Menumbuhkan Ekonomi Sirkular di Pedesaan
Dari peternakan, limbah diubah menjadi energi, hasil sampingan jadi pupuk, dan hasil panen kembali memberi pakan bagi sapi. Ini menciptakan rantai ekonomi yang berputar secara berkelanjutan.
Contoh Penerapan di Indonesia
Beberapa daerah di Indonesia telah berhasil memanfaatkan limbah peternakan untuk energi terbarukan:
-
Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah
Melalui program Biogas Rumah Tangga dari Dinas Peternakan, lebih dari 500 rumah tangga peternak telah menggunakan biogas untuk memasak. Program ini berhasil menghemat ratusan tabung LPG setiap bulan.
(Sumber: Dinas Peternakan Boyolali, 2024) -
Desa Sukorejo, Pasuruan
Kelompok peternak sapi perah di Desa Sukorejo mengolah kotoran sapi menjadi biogas dan pupuk organik. Hasilnya, mereka tidak hanya mandiri energi tetapi juga memperoleh tambahan penghasilan dari penjualan pupuk cair ke petani sekitar.
(Sumber: Kementerian Pertanian RI, 2023)
Kisah sukses ini menunjukkan bahwa energi terbarukan dari peternakan sapi bisa menjadi solusi nyata untuk desa mandiri energi.
Tantangan dan Solusinya
Meskipun potensinya besar, penerapan energi terbarukan dari peternakan sapi masih menghadapi beberapa kendala:
-
Kurangnya Pengetahuan dan Pelatihan Peternak
Banyak peternak belum memahami cara mengelola kotoran menjadi biogas.
π Solusi: Pemerintah dan lembaga swasta dapat mengadakan pelatihan teknologi biogas sederhana dan menyediakan panduan praktis. -
Biaya Awal Pembuatan Digester
Pembuatan tangki biogas memerlukan biaya awal sekitar 5β10 juta rupiah, yang masih dirasa berat bagi sebagian peternak.
π Solusi: Diperlukan dukungan subsidi atau kredit usaha rakyat (KUR) agar peternak bisa membangun unit biogas sendiri. -
Perawatan dan Teknologi yang Kurang Efisien
Beberapa unit biogas berhenti berfungsi karena kurangnya perawatan atau desain yang tidak sesuai.
π Solusi: Pengawasan rutin dan pengembangan teknologi biogas modern seperti fixed dome dan floating drum yang lebih tahan lama.
Dampak Positif untuk Lingkungan dan Ekonomi
Menurut penelitian dari Universitas Gadjah Mada (2022), satu unit biogas skala rumah tangga dapat mengurangi emisi gas metana setara dengan 6 ton COβ per tahun. Selain itu, peternak yang menggunakan biogas bisa menghemat hingga Rp200.000βRp400.000 per bulan dari pengeluaran energi rumah tangga.
Dengan jumlah peternak sapi yang besar, jika 10% saja dari mereka mengadopsi teknologi biogas, Indonesia dapat menghemat jutaan liter LPG setiap tahun. Dampak ekonominya bukan hanya dirasakan di tingkat rumah tangga, tetapi juga nasional.
Intership SMKN 1 Bungo | Putri Ardiana Safara



