Ternak Tani – Pandemi COVID-19 mengubah banyak hal, termasuk sektor pertanian dan peternakan. Para peternak harus menghadapi harga pakan naik, distribusi tersendat, hingga sulitnya pemasaran. Menurut data Kementerian Pertanian tahun 2021, salah satu sektor yang paling terdampak adalah peternakan sapi karena biaya operasional meningkat bersamaan dengan turunnya daya beli masyarakat.
Namun, di tengah kesulitan itu selalu ada cerita inspiratif. Salah satunya adalah kisah para peternak sapi yang memilih untuk tidak menyerah, melainkan mencari cara baru agar tetap bertahan. Dari sinilah muncul berbagai inovasi yang ternyata mampu membuka peluang dan memberikan harapan baru.
Kisah Inspiratif: Peternak Sapi yang Berani Berinovasi
Salah satu cerita datang dari seorang peternak muda di Jawa Tengah bernama Andi Prasetyo. Ia memulai usaha ternak sapi sejak 2017, namun pandemi membuat usaha yang sedang berkembang itu nyaris berhenti. Pasokan pakan berkurang, harga bahan baku naik hampir dua kali lipat, dan akses ke pasar tradisional menjadi sangat terbatas.
Menurut laporan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) 2022, kondisi seperti ini dialami sekitar 60–70% peternak sapi kecil di Indonesia. Namun, berbeda dari banyak peternak lain, Andi mencoba melakukan inovasi agar tidak hanya bertahan, tetapi justru berkembang.
Berbagai upaya yang dilakukan akhirnya membawa Andi menjadi salah satu contoh sukses di kalangan peternak muda. Berikut beberapa inovasi yang ia lakukan.
1. Mengolah Pakan Fermentasi untuk Menekan Biaya
Saat harga pakan melonjak, Andi sadar bahwa jika ia terus mengandalkan pakan komersial, usahanya tidak akan bertahan lama. Ia kemudian mempelajari teknik pakan fermentasi dari modul pelatihan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Tengah (2020).
Dengan memanfaatkan jerami, dedak, dan sedikit molase, Andi dapat membuat pakan fermentasi yang lebih murah namun tetap bergizi tinggi.
Keuntungan pakan fermentasi yang ia rasakan:
-
Sapi lebih mudah mencerna pakan.
-
Nafsu makan sapi meningkat.
-
Biaya pakan dapat ditekan hingga 40%.
-
Produksi susu (untuk sapi perah) meningkat.
Inovasi sederhana ini membuat pengeluaran harian menurun drastis. Andi juga membagikan ilmunya kepada peternak sekitar melalui kelompok ternak desa.
2. Beralih ke Penjualan Online Saat Pasar Tutup
Saat pasar tradisional sepi dan pembatasan berlangsung, Andi tidak bisa lagi mengandalkan penjualan langsung. Ia mencoba strategi baru: pemasaran online melalui media sosial dan marketplace lokal.
Menurut laporan Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian (Pusdatin) 2022, transaksi pangan dan produk pertanian melalui platform digital meningkat tajam selama pandemi. Kesempatan inilah yang dimanfaatkan Andi.
Ia memposting foto sapi, harga, dan kondisi peternakan di Facebook, WhatsApp Group, hingga Instagram. Hasilnya cukup mengejutkan. Banyak calon pembeli ternyata lebih nyaman melihat kondisi sapi secara online sebelum datang ke peternakan.
Kini, bahkan setelah pandemi mereda, Andi tetap mempertahankan strategi pemasaran digital karena terbukti meningkatkan jangkauan pasar hingga luar provinsi.
3. Pemanfaatan Limbah Kotoran Sapi Menjadi Pupuk Organik
Ketika pendapatan menurun, Andi berusaha mencari peluang baru dari limbah ternaknya. Ia kemudian mempelajari cara mengolah kotoran sapi menjadi pupuk organik berdasarkan materi Pelatihan Pertanian Berkelanjutan Kementan 2021.
Pupuk organik yang ia hasilkan justru banyak dicari oleh petani sayur dan buah di wilayahnya. Selain ramah lingkungan, pupuk ini juga lebih terjangkau dibanding pupuk kimia yang harganya naik tajam selama pandemi.
Setiap bulan, Andi mampu menjual puluhan karung pupuk organik dan memberikan pemasukan tambahan yang cukup signifikan. Langkah ini membuat sistem peternakannya lebih berkelanjutan dan minim limbah.
4. Meningkatkan Kebersihan Kandang dan Kesehatan Sapi
Pandemi membuat masyarakat semakin sadar akan pentingnya kebersihan. Andi merespons perubahan ini dengan meningkatkan standar sanitasi kandang mengikuti pedoman Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) 2021.
Langkah-langkah yang ia terapkan antara lain:
-
Menyemprotkan disinfektan secara rutin.
-
Memperluas ventilasi kandang agar udara tetap segar.
-
Mengatur jarak antar sapi agar stres berkurang.
-
Menyediakan bak cuci tangan untuk pengunjung kandang.
Dengan rutinitas baru ini, sapi menjadi lebih sehat dan jarang terkena penyakit. Sementara itu, pembeli merasa lebih aman saat berkunjung karena kandang terlihat bersih dan terawat.
5. Berkolaborasi dengan Peternak Lain untuk Menjaga Stok Pakan
Salah satu langkah paling cerdas yang dilakukan Andi adalah berkolaborasi dengan peternak lain. Menurut hasil survei Fakultas Peternakan UGM tahun 2022, peternak yang tergabung dalam kelompok atau komunitas terbukti lebih mampu bertahan di masa krisis karena bisa saling membantu soal pakan, teknologi, maupun pemasaran.
Andi bersama 12 peternak di desanya membentuk kelompok yang fokus pada:
-
Membeli pakan secara grosir agar lebih murah.
-
Saling bertukar pakan ketika stok menipis.
-
Mengadakan pelatihan bersama tentang teknologi peternakan.
-
Membuat kesepakatan standar harga jual agar pasar lebih stabil.
Kolaborasi ini membuat mereka lebih kuat menghadapi fluktuasi harga dan kendala distribusi.
Dampak Inovasi: Usaha Kembali Bangkit dan Semakin Berkembang
Dalam waktu kurang dari dua tahun, inovasi Andi membuahkan hasil yang luar biasa. Jumlah sapi yang ia miliki meningkat dari 12 ekor menjadi lebih dari 25 ekor. Penjualan pupuk organik juga semakin stabil, dan permintaan online terus meningkat.
Menurut pengakuannya, pandemi justru menjadi titik balik yang membuatnya belajar untuk terus beradaptasi. Ia menyadari bahwa dunia peternakan tidak lagi bisa berjalan dengan cara lama. Teknologi, kebersihan, manajemen pakan, dan pemasaran modern menjadi kunci keberhasilan.
Pelajaran Penting dari Kisah Ini
Dari perjalanan inovatif Andi, ada beberapa pelajaran penting bagi peternak lain:
1. Inovasi tidak harus mahal
Bahkan langkah sederhana seperti membuat pakan fermentasi sudah bisa menekan biaya besar.
2. Pemasaran online bukan pelengkap, tetapi keharusan
Perubahan perilaku konsumen menuntut peternak untuk lebih aktif di dunia digital.
3. Limbah ternak bisa menjadi sumber pendapatan baru
Pupuk organik memiliki pasar yang luas.
4. Kebersihan kandang adalah investasi jangka panjang
Sapi sehat = biaya perawatan rendah + harga jual lebih tinggi.
5. Kolaborasi lebih kuat daripada bekerja sendiri
Komunitas adalah fondasi ketahanan peternak.
Kisah inovatif peternak sapi di tengah pandemi menjadi bukti bahwa tantangan bisa berubah menjadi peluang bagi mereka yang berani beradaptasi. Dengan memanfaatkan teknologi, mengolah pakan sendiri, menjaga kebersihan, hingga memaksimalkan limbah ternak, para peternak dapat membuka jalan baru menuju keberhasilan.
Intership SMKN 1 Bungo | Putri Ardiana Safara



