Ternak Tani – Setiap peternak sapi perlu memahami siklus hidup sapi agar bisa memberikan perawatan sesuai kebutuhan pada setiap tahap. Sama seperti makhluk hidup lain, sapi mengalami fase pertumbuhan dari anak, remaja, hingga dewasa.
Menurut Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH, 2022), pemahaman tentang fase pertumbuhan ini penting untuk menentukan pakan, perawatan kesehatan, dan program reproduksi yang tepat. Dengan memahami siklusnya, peternak bisa memaksimalkan produktivitas ternak dan mengurangi risiko penyakit.
Tahap Pertama: Anak Sapi atau Pedet
Fase pertama dalam siklus hidup sapi dimulai sejak lahir hingga umur sekitar 6 bulan. Anak sapi dikenal dengan sebutan pedet. Pada tahap ini, fokus utama adalah meningkatkan daya tahan tubuh dan memastikan pertumbuhan tulang dan otot berjalan optimal.
Pedet baru lahir sangat bergantung pada induknya. Dalam 2 jam pertama setelah lahir, pedet harus segera mendapatkan kolostrum, yaitu susu pertama yang keluar dari induk sapi. Kolostrum kaya akan antibodi yang berfungsi meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Menurut penelitian dari Balai Penelitian Ternak Indonesia (Balitnak, 2021), pedet yang mendapatkan kolostrum cukup selama 3 hari pertama memiliki tingkat kelangsungan hidup 90% lebih tinggi dibanding yang tidak.
Selain kolostrum, peternak perlu menjaga kebersihan kandang dan memastikan pedet tidak kedinginan. Suhu ideal untuk anak sapi adalah 25–30°C. Setelah umur 2 minggu, pedet bisa mulai dikenalkan pada pakan tambahan berupa konsentrat khusus pedet agar sistem pencernaannya berkembang.
Tahap Kedua: Sapi Muda atau Masa Pertumbuhan
Setelah berumur sekitar 6 bulan hingga 1,5 tahun, sapi masuk ke tahap pertumbuhan. Pada fase ini, kebutuhan nutrisi meningkat karena tubuh sedang berkembang pesat.
Sapi muda membutuhkan pakan berkualitas tinggi dengan komposisi seimbang antara protein, energi, dan mineral. Menurut data dari FAO (Food and Agriculture Organization), pemberian pakan dengan kandungan protein 12–14% dan serat kasar sekitar 18–22% membantu mempercepat pertumbuhan otot dan meningkatkan bobot badan secara sehat.
Selain pakan, aktivitas fisik juga penting. Biarkan sapi berjemur dan bergerak di padang rumput agar ototnya kuat dan sistem peredaran darahnya lancar. Pada usia ini, peternak bisa mulai melatih sapi untuk mengenali kandang, tali, dan rutinitas makan.
Perawatan kesehatan juga perlu diperhatikan. Lakukan vaksinasi dan pemeriksaan rutin minimal setiap 3 bulan sekali untuk mencegah penyakit seperti antraks, BVD, dan cacingan.
Tahap Ketiga: Sapi Dewasa
Sapi dikatakan dewasa secara biologis pada usia 2 tahun ke atas. Pada tahap ini, sapi sudah siap untuk produksi atau reproduksi tergantung tujuannya — apakah untuk penggemukan, perah, atau bibit.
Menurut Kementerian Pertanian RI (2023), sapi betina siap dikawinkan saat sudah mencapai berat badan minimal 250–300 kg, sedangkan sapi jantan biasanya mencapai kematangan seksual pada usia 18–24 bulan.
a. Sapi Dewasa untuk Produksi Daging
Jika tujuannya untuk penggemukan, pakan yang diberikan harus tinggi energi agar pembentukan daging maksimal. Gunakan fermentasi pakan, seperti jerami amoniasi atau silase jagung, karena terbukti meningkatkan efisiensi pencernaan sapi (Sumber: Balitbangtan, 2020).
b. Sapi Dewasa untuk Produksi Susu
Bagi sapi perah seperti Friesian Holstein, perawatan lebih menekankan pada keseimbangan nutrisi dan manajemen pemerahan. Ketersediaan air bersih juga sangat penting — sapi perah dewasa bisa minum hingga 100 liter air per hari untuk menjaga produksi susu optimal.
Tahap Reproduksi dan Masa Laktasi
Setelah dewasa, sapi betina memasuki fase reproduksi. Masa ini meliputi perkawinan, kebuntingan, dan menyusui. Siklus birahi sapi terjadi setiap 18–24 hari, dan masa kebuntingannya berlangsung sekitar 9 bulan (285 hari).
Selama masa bunting, sapi membutuhkan pakan tambahan berupa mineral dan vitamin A, D, E, karena kekurangan nutrisi bisa menyebabkan anak lahir lemah atau mati (Sumber: Fakultas Peternakan UGM, 2022).
Setelah melahirkan, sapi masuk ke masa laktasi atau menyusui selama 6–8 bulan. Pada fase ini, pemberian pakan dengan protein tinggi (16–18%) dan energi cukup penting untuk menjaga produksi susu tetap stabil.
Tahap Akhir: Masa Pensiun dan Regenerasi
Sapi yang sudah berumur di atas 8–10 tahun biasanya mulai menurun produktivitasnya. Sapi betina tidak lagi aktif bereproduksi, sedangkan sapi jantan mulai menurun performanya.
Pada tahap ini, peternak perlu mempertimbangkan penggantian bibit agar kualitas ternak tetap terjaga. Sapi tua sebaiknya dirawat dengan pakan lunak dan vitamin tambahan agar tidak mudah sakit.
Beberapa peternak memilih menjual sapi tua untuk daging olahan, sementara yang lain menjadikannya “sapi pengasuh” bagi anak sapi di kandang, karena sapi tua biasanya lebih tenang dan berpengalaman.
Tips Merawat Sapi di Setiap Tahap Hidupnya
Agar sapi tumbuh sehat dan produktif di setiap tahap kehidupannya, berikut beberapa tips penting:
-
Jaga kebersihan kandang setiap hari. Kandang yang bersih mencegah penyakit kulit dan infeksi bakteri.
-
Berikan pakan sesuai umur dan kebutuhan. Jangan samakan pakan pedet dengan sapi dewasa.
-
Pastikan air selalu tersedia dan bersih. Air berperan besar dalam pencernaan dan metabolisme.
-
Lakukan vaksinasi rutin. Ini membantu mencegah penyakit menular seperti LSD dan antraks.
-
Perhatikan perilaku sapi. Sapi yang tampak lemas atau tidak mau makan bisa jadi tanda awal penyakit.
Menurut panduan dari FAO Livestock Development Report (2021), kombinasi antara pakan yang baik, kebersihan, dan pengawasan kesehatan bisa meningkatkan efisiensi peternakan hingga 30%.
Kunci Kesuksesan Ternak Ada pada Pemahaman Siklus Hidup
Memahami siklus hidup sapi dari anak hingga dewasa bukan hanya soal mengenali tahapan umur, tetapi juga tentang bagaimana menyesuaikan perawatan, pakan, dan manajemen kandang di setiap fase.



