Ternak Tani – Dalam dunia peternakan, keberhasilan usaha ternak sapi sangat bergantung pada pemilihan bibit yang tepat. Bibit sapi yang sehat dan unggul akan tumbuh cepat, memiliki daya tahan tubuh yang baik, serta menghasilkan daging atau susu berkualitas tinggi. Sebaliknya, bibit yang kurang baik bisa membuat peternak rugi karena pertumbuhannya lambat dan mudah sakit.
Menurut Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (2023), sekitar 60% keberhasilan usaha sapi potong dan perah ditentukan oleh kualitas bibitnya. Oleh karena itu, sebelum membeli sapi, peternak perlu tahu bagaimana cara memilih bibit yang benar.
1. Kenali Jenis Sapi Sesuai Tujuan Ternak
Langkah pertama dalam memilih bibit sapi adalah menentukan tujuan pemeliharaan. Secara umum, sapi dibedakan menjadi dua jenis utama: sapi potong dan sapi perah.
-
Sapi potong seperti Sapi Limousin, Simental, Brahman, dan PO (Peranakan Ongole) lebih cocok untuk produksi daging.
Sapi potong yang baik memiliki tubuh lebar, otot padat, dan bagian paha yang berisi. -
Sapi perah seperti Friesian Holstein (FH) lebih cocok untuk produksi susu.
Sapi jenis ini memiliki tubuh ramping dengan ambing besar dan sehat.
Menyesuaikan jenis bibit dengan tujuan usaha sangat penting agar hasil yang didapat sesuai harapan. Misalnya, tidak efektif memelihara sapi perah jika tujuannya untuk menghasilkan daging karena pertumbuhannya lebih lambat (Sumber: balitnak.pertanian.go.id).
2. Perhatikan Kondisi Fisik Sapi
Ciri fisik adalah tanda paling mudah untuk menilai kesehatan bibit sapi. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan:
-
Mata cerah dan tidak berair. Sapi yang sehat memiliki pandangan tajam dan aktif. Mata yang sayu atau berair bisa jadi tanda infeksi atau kekurangan gizi.
-
Bulu halus dan mengkilap. Bulu kusam dan rontok menandakan kesehatan kulit dan nutrisi kurang baik.
-
Hidung basah dan bersih. Hidung kering atau keluar lendir tebal bisa menjadi tanda gangguan pernapasan.
-
Gerakan lincah. Sapi sehat akan aktif, tidak lemas atau lesu.
-
Nafsu makan baik. Perhatikan apakah sapi mau makan rumput atau konsentrat yang diberikan.
Menurut Balai Penelitian Ternak (Balitnak, 2022), sapi dengan berat badan sesuai umur dan tubuh proporsional cenderung memiliki produktivitas yang lebih tinggi dibanding sapi dengan pertumbuhan tidak seimbang.
3. Cek Umur Bibit Sapi
Mengetahui umur sapi sangat penting agar peternak tidak salah dalam menentukan bibit. Umur sapi bisa diketahui dari gigi seri bagian bawah.
-
Sapi muda (di bawah 2 tahun) memiliki gigi susu yang masih lengkap.
-
Pada umur 2–3 tahun, dua gigi tengah mulai berganti menjadi gigi tetap.
-
Jika semua gigi sudah tetap, berarti umur sapi di atas 4 tahun.
Untuk bibit sapi potong, idealnya memilih sapi berumur 1,5–2 tahun, karena masih produktif dan pertumbuhannya pesat. Sedangkan untuk sapi perah, bibit betina sebaiknya dipilih pada umur 1–1,5 tahun, agar siap kawin pada umur 18–24 bulan (Sumber: Dirjen Peternakan, 2023).
4. Pilih Bibit dari Induk yang Berkualitas
Bibit unggul biasanya lahir dari induk dan pejantan unggul. Maka, penting untuk menanyakan asal-usul sapi saat membeli.
Ciri-ciri induk unggul:
-
Pernah melahirkan anak dengan pertumbuhan cepat dan sehat.
-
Tidak memiliki riwayat penyakit menular seperti brucellosis atau anthrax.
-
Produktivitas tinggi (baik dalam hal daging maupun susu).
Peternak dapat meminta sertifikat atau data silsilah sapi dari peternak sebelumnya. Beberapa lembaga seperti Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) menyediakan sapi dengan catatan genetik yang jelas dan terjamin kualitasnya.
5. Cermati Kondisi Kesehatan dan Riwayat Vaksin
Sapi yang sehat harus bebas dari penyakit menular. Pastikan sapi yang dibeli sudah melalui pemeriksaan kesehatan oleh dokter hewan dan memiliki surat keterangan sehat.
Beberapa penyakit yang perlu diwaspadai:
-
Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)
-
Brucellosis
-
Antraks
-
SE (Septicemia Epizootica)
Mintalah bukti vaksinasi dan catatan perawatan sapi dari peternak asal. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian RI (2022) juga menganjurkan agar peternak membeli sapi dari tempat yang sudah diawasi oleh Dinas Peternakan setempat.
6. Amati Bentuk Tubuh dan Struktur Tulang
Struktur tubuh sapi berpengaruh pada kemampuan tumbuh dan produksinya.
Untuk sapi potong, perhatikan hal berikut:
-
Tubuh panjang, dada lebar, dan punggung lurus.
-
Paha dan bahu tampak berisi.
-
Kaki tegap dan tidak pincang.
Untuk sapi perah:
-
Tubuh ramping, tulang rusuk menonjol (tanda metabolisme tinggi).
-
Ambing besar, simetris, dan tidak luka.
Menurut FAO (Food and Agriculture Organization), sapi dengan struktur tubuh proporsional dan tulang kokoh akan memiliki efisiensi pakan yang lebih baik dan lebih tahan terhadap stres lingkungan.
7. Observasi Perilaku Sapi
Selain fisik, perilaku sapi juga mencerminkan kesehatannya. Sapi sehat umumnya:
-
Aktif bergerak dan mudah beradaptasi dengan lingkungan baru.
-
Tidak mudah panik saat didekati manusia.
-
Mampu berdiri tegak dan berjalan seimbang.
Sapi yang terlalu tenang, sering berbaring, atau tampak lesu biasanya mengalami gangguan kesehatan atau stres.
Menurut Jurnal Peternakan Indonesia (2021), tingkat stres pada sapi berpengaruh langsung terhadap sistem imun dan efisiensi pertumbuhan, sehingga penting untuk memilih sapi dengan perilaku yang stabil.
8. Perhatikan Harga dan Tempat Pembelian
Harga bibit sapi yang terlalu murah bisa menjadi tanda bahwa sapi tersebut kurang sehat atau memiliki cacat tersembunyi. Sebaiknya beli bibit di tempat yang terpercaya dan memiliki reputasi baik, seperti:
-
Balai inseminasi atau pembibitan resmi pemerintah.
-
Peternak yang memiliki sertifikat kesehatan dan pengalaman.
Jika membeli di pasar hewan, bawa pendamping ahli atau dokter hewan agar tidak tertipu dengan penampilan luar sapi.
9. Tips Tambahan untuk Peternak Pemula
-
Jangan terburu-buru membeli. Luangkan waktu untuk observasi beberapa hari.
-
Periksa feses sapi. Sapi sehat memiliki feses padat dan tidak berbau menyengat.
-
Perhatikan napas dan suhu tubuh. Suhu normal sapi antara 38°C–39°C.
-
Gunakan catatan pembelian. Catat identitas sapi seperti umur, jenis kelamin, dan asal.
Tips-tips ini bisa membantu peternak memastikan bahwa investasi yang dilakukan benar-benar menguntungkan dalam jangka panjang.
Memilih bibit sapi yang sehat dan unggul bukan sekadar melihat ukuran tubuh, tetapi juga memperhatikan faktor genetik, perilaku, dan kondisi kesehatannya. Bibit yang baik akan menghasilkan pertumbuhan optimal, efisiensi pakan tinggi, dan hasil produksi yang memuaskan.
Intership SMKN 1 Bungo | Putrii Ardiana Safara



