Ternak Tani – Pengelolaan limbah kandang bukan hanya soal menjaga kebersihan, tetapi juga tentang kesehatan dan keberlanjutan lingkungan peternakan. Limbah yang tidak diolah dengan baik dapat menimbulkan bau menyengat, mengundang lalat, bahkan mencemari air tanah di sekitar area kandang.
Menurut Kementerian Pertanian (2023), limbah peternakan seperti kotoran padat dan cair mengandung zat organik tinggi yang bisa menghasilkan gas amonia (NH₃) dan hidrogen sulfida (H₂S) — dua penyebab utama bau busuk. Karena itu, pengelolaan limbah secara teratur dan benar dapat mengurangi polusi udara dan menjaga produktivitas ternak tetap optimal.
Jenis-Jenis Limbah Kandang yang Perlu Dikelola
Untuk bisa mengelola limbah dengan benar, peternak perlu mengetahui jenis-jenis limbah yang dihasilkan kandang. Secara umum, limbah dibagi menjadi dua jenis utama:
-
Limbah padat: seperti kotoran hewan, sisa pakan, dan jerami.
-
Limbah cair: berupa urin ternak dan air bekas pencucian kandang.
Limbah padat lebih mudah diolah menjadi pupuk kompos atau biogas, sedangkan limbah cair perlu sistem drainase atau pengolahan khusus agar tidak mencemari lingkungan. Menurut Balai Penelitian Ternak (Balitnak, 2022), kombinasi pengolahan dua jenis limbah ini dapat menekan emisi bau hingga 80%.
Membersihkan Kandang Secara Teratur
Langkah paling dasar untuk menghindari bau adalah rutin membersihkan kandang. Pembersihan sebaiknya dilakukan minimal dua kali sehari: pagi dan sore. Pastikan kotoran hewan segera dibersihkan sebelum menumpuk.
Gunakan alat sederhana seperti sekop dan ember, lalu semprot lantai kandang dengan air bersih. Hindari penggunaan air berlebihan agar tidak menimbulkan genangan yang justru menjadi sumber bau.
Menurut sumber dari Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan (2023), pembersihan rutin terbukti dapat mengurangi pembentukan gas amonia hingga 40%.
Gunakan Bahan Penyerap Bau Alami
Selain kebersihan, bau kandang bisa dikendalikan dengan bahan alami penyerap bau. Misalnya:
-
Abu sekam padi: menyerap kelembapan dan menetralkan bau.
-
Serbuk gergaji: menyerap urin dan menjaga lantai tetap kering.
-
Zeolit atau kapur dolomit: menetralkan pH dan menghambat pertumbuhan bakteri penyebab bau.
Penelitian oleh Universitas Gadjah Mada (UGM, 2021) menunjukkan bahwa penggunaan zeolit sebanyak 10% dari total alas kandang dapat menurunkan kadar amonia udara hingga 60%. Jadi, bahan-bahan ini bisa menjadi solusi murah dan alami.
Mengolah Limbah Menjadi Pupuk Kompos
Daripada dibuang, limbah kandang bisa diolah menjadi pupuk kompos organik. Selain mengurangi bau, cara ini juga memberi nilai tambah ekonomi bagi peternak.
Langkah-langkah membuat pupuk kompos dari kotoran hewan:
-
Campurkan kotoran hewan dengan jerami atau sekam padi.
-
Tambahkan EM4 atau bio-aktivator untuk mempercepat fermentasi.
-
Aduk rata dan tutup rapat menggunakan terpal.
-
Biarkan selama 3–4 minggu, sambil diaduk tiap 3 hari agar proses oksidasi berjalan baik.
Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (2022), proses fermentasi ini akan menurunkan kadar gas berbau dan menghasilkan pupuk kaya nitrogen, fosfor, serta kalium yang sangat baik untuk tanaman.
Menerapkan Sistem Biogas dari Kotoran Ternak
Salah satu teknologi modern yang bisa dimanfaatkan adalah instalasi biogas. Dengan sistem ini, kotoran ternak dimasukkan ke dalam digester (tabung fermentasi) untuk menghasilkan gas metana yang bisa digunakan sebagai bahan bakar.
Selain menghasilkan energi alternatif, proses biogas juga menekan bau hingga 90% karena kotoran terfermentasi tertutup rapat. Sisa hasil fermentasi (slurry) dapat digunakan kembali sebagai pupuk cair yang ramah lingkungan.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM, 2023) melaporkan bahwa peternakan dengan sistem biogas bisa menghemat biaya bahan bakar hingga Rp500.000 per bulan, sekaligus mengurangi pencemaran udara.
Membangun Drainase dan Ventilasi yang Baik
Kebersihan kandang juga dipengaruhi oleh sistem drainase dan ventilasi. Air limbah harus mengalir lancar ke saluran pembuangan agar tidak tergenang. Pastikan saluran air dilapisi semen dan memiliki kemiringan minimal 2–3 derajat supaya air cepat mengalir keluar.
Ventilasi juga penting untuk menjaga sirkulasi udara. Lubang ventilasi yang cukup akan membantu gas amonia keluar dari kandang. Menurut Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP, 2022), kandang dengan ventilasi alami bisa menurunkan kelembapan hingga 30%, sehingga bau lebih cepat hilang.
Mengatur Jumlah Ternak agar Tidak Overload
Kandang yang terlalu padat membuat limbah cepat menumpuk dan sulit dikendalikan. Idealnya, satu ekor kambing atau sapi memiliki ruang gerak minimal 1,5–2 meter persegi.
Dengan kepadatan yang seimbang, peternak lebih mudah mengelola kotoran dan menjaga kebersihan lantai kandang.
Menurut FAO (Food and Agriculture Organization, 2023), rasio kepadatan ternak yang tepat dapat menurunkan risiko penyakit dan mengurangi emisi gas rumah kaca dari limbah ternak hingga 25%.
Gunakan Probiotik Pengurai Bau
Probiotik kini banyak digunakan sebagai bahan tambahan dalam pengolahan limbah kandang. Cairan probiotik seperti EM4 atau bakteri pengurai membantu mempercepat dekomposisi kotoran, sehingga gas berbau tidak sempat terbentuk.
Cukup semprotkan probiotik setiap hari di area kotoran atau tempat pembuangan limbah. Hasil penelitian Universitas Brawijaya (2022) menunjukkan bahwa penggunaan EM4 mampu menurunkan kadar bau hingga 70% dalam waktu 10 hari.
Edukasi dan Kebiasaan Peternak yang Konsisten
Teknologi dan alat secanggih apa pun tidak akan efektif tanpa kebiasaan peternak yang disiplin. Edukasi tentang cara pengelolaan limbah perlu terus dilakukan, baik melalui pelatihan lokal, media sosial, maupun komunitas peternak.
Dengan kesadaran bersama, bau kandang bisa dikendalikan dan lingkungan sekitar menjadi lebih bersih dan sehat. Selain itu, penerapan pengelolaan limbah yang baik juga meningkatkan citra positif usaha peternakan di mata konsumen.
Mengelola limbah kandang agar tidak bau bukan hal sulit jika dilakukan dengan rutin, terencana, dan disiplin.
Mulailah dari hal kecil seperti membersihkan kandang secara teratur, menggunakan bahan alami penyerap bau, hingga mengolah kotoran menjadi pupuk atau biogas. Semua langkah ini bukan hanya mengurangi bau, tapi juga memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan yang berkelanjutan.
Dengan penerapan cara-cara di atas, peternak dapat mewujudkan kandang yang bersih, sehat, dan produktif, sekaligus berkontribusi pada pengelolaan limbah yang ramah lingkungan.
Intership SMKn 1 Bung0 | Ahmad Sarino



