Ternak Tani – Dalam dunia peternakan modern, pengangkutan sapi jarak jauh merupakan hal yang umum, baik untuk keperluan penjualan, pembiakan, maupun pemotongan. Namun, perjalanan panjang bisa menjadi pemicu stres bagi sapi. Kondisi seperti panas, dehidrasi, suara bising, getaran kendaraan, serta waktu perjalanan yang lama dapat membuat sapi kelelahan dan kehilangan keseimbangan emosional maupun fisik.
Menurut Kementerian Pertanian RI (Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2023), stres transportasi dapat memengaruhi performa ternak hingga 20%, menurunkan nafsu makan, serta meningkatkan risiko penyakit seperti pneumonia dan diare. Maka dari itu, penting bagi peternak untuk memahami cara mengatasi stres pada sapi setelah perjalanan jauh agar kondisi sapi cepat pulih.
1. Memahami Penyebab Stres pada Sapi
Sebelum mengatasi, kita perlu memahami penyebab stres yang dialami sapi. Stres biasanya timbul karena perubahan lingkungan dan kondisi fisik yang mendadak. Beberapa faktor umum penyebab stres antara lain:
-
Perubahan suhu ekstrem — Sapi sensitif terhadap panas dan kelembapan. Ketika suhu di dalam kendaraan terlalu tinggi, sapi cepat kehilangan cairan.
-
Kepadatan kandang transportasi — Terlalu banyak sapi dalam satu ruang angkut membuat mereka sulit bergerak dan beristirahat.
-
Waktu perjalanan yang panjang — Semakin lama perjalanan, semakin besar kemungkinan sapi mengalami kelelahan dan stres.
-
Kekurangan air dan pakan — Sapi yang tidak diberi minum atau pakan selama perjalanan akan mengalami dehidrasi.
-
Kebisingan dan getaran kendaraan — Getaran terus-menerus bisa membuat sapi gelisah.
Menurut FAO (Food and Agriculture Organization, 2022), stres pada ternak bukan hanya berdampak pada perilaku, tetapi juga pada sistem imun dan metabolisme, yang akhirnya menurunkan produktivitas.
2. Tanda-Tanda Sapi Mengalami Stres
Peternak harus mampu mengenali gejala sapi yang stres agar bisa segera melakukan tindakan. Beberapa tanda-tanda umum antara lain:
-
Sapi tampak gelisah dan mudah panik
-
Nafsu makan menurun atau tidak mau makan sama sekali
-
Detak jantung dan pernapasan meningkat
-
Produksi susu menurun drastis (untuk sapi perah)
-
Suhu tubuh naik dan tampak kelelahan
-
Kadang terjadi diare atau lendir berlebih di hidung
Menurut penelitian dari Balai Besar Veteriner Wates (2021), sapi yang mengalami stres berat selama transportasi juga menunjukkan peningkatan kadar hormon kortisol dalam darah — indikator utama stres pada hewan ternak.
3. Langkah Pertama Setelah Sapi Tiba di Lokasi
Begitu sapi sampai di lokasi tujuan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memberikan waktu istirahat dan adaptasi.
a. Tempatkan di Area yang Tenang
Pindahkan sapi ke kandang karantina yang sejuk, bersih, dan tidak bising. Biarkan sapi beradaptasi minimal 12–24 jam sebelum digabung dengan sapi lain. Menurut Direktorat Kesehatan Hewan (2023), masa adaptasi sangat penting untuk menormalkan suhu tubuh dan tekanan darah sapi.
b. Sediakan Air Minum yang Cukup
Sapi yang dehidrasi perlu air bersih dalam jumlah banyak. Air membantu menurunkan suhu tubuh dan melancarkan pencernaan. Disarankan memberi air elektrolit (campuran air, garam, dan gula) untuk membantu memulihkan energi.
c. Berikan Pakan yang Mudah Dicerna
Hindari langsung memberi pakan padat seperti hijauan kasar atau konsentrat berat. Berikan pakan ringan seperti rumput segar dan dedak halus. Setelah 1–2 hari, barulah beralih ke pakan normal. Sumber: Jurnal Ilmu Ternak Tropika, Universitas Brawijaya (2020).
4. Menjaga Kebersihan dan Kesehatan Lingkungan
Sapi yang stres sangat rentan terhadap penyakit. Oleh karena itu, kebersihan kandang dan lingkungan harus dijaga dengan ketat. Bersihkan kandang setiap hari, ganti alas kotor, dan pastikan ventilasi baik agar udara segar mengalir.
Selain itu, lakukan penyemprotan desinfektan ringan untuk mencegah penyebaran bakteri atau virus. Hindari penggunaan bahan kimia berlebihan yang dapat mengiritasi pernapasan sapi.
Menurut panduan dari FAO Livestock Development (2022), kandang yang nyaman, kering, dan bebas dari bau menyengat dapat menurunkan tingkat stres hingga 40%.
5. Pemeriksaan Kesehatan dan Pemantauan Rutin
Setelah perjalanan jauh, sangat penting untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin. Panggil dokter hewan untuk memeriksa kondisi sapi, termasuk suhu tubuh, napas, serta kondisi kulit dan mata.
Beberapa hal yang harus dipantau:
-
Nafsu makan dan minum
-
Feses (tidak terlalu cair atau keras)
-
Tanda-tanda infeksi pernapasan
-
Kelemahan atau pincang karena cedera perjalanan
Jika ditemukan tanda-tanda sakit, segera lakukan pengobatan sesuai anjuran dokter hewan. Menurut sumber dari Kementerian Pertanian (2023), pemberian vitamin B kompleks atau suplemen anti-stres bisa membantu mempercepat pemulihan.
6. Pemberian Suplemen dan Vitamin
Untuk mempercepat pemulihan, sapi dapat diberikan vitamin dan suplemen pakan. Beberapa yang disarankan antara lain:
-
Vitamin C dan E untuk meningkatkan daya tahan tubuh
-
Mineral seperti zinc dan selenium untuk membantu regenerasi sel
-
Probiotik dan prebiotik guna memperbaiki sistem pencernaan
Menurut hasil penelitian dari Jurnal Peternakan Indonesia (2021), pemberian vitamin C sebanyak 5–10 gram per hari selama 5 hari berturut-turut dapat menurunkan kadar stres dan mempercepat peningkatan nafsu makan sapi setelah perjalanan.
7. Hindari Langsung Digabung dengan Sapi Lain
Kesalahan umum peternak adalah langsung menggabungkan sapi yang baru datang dengan kelompok lama. Padahal, sapi yang baru tiba bisa membawa penyakit dari daerah asal, dan jika masih stres, akan sulit beradaptasi dengan lingkungan baru.
Lakukan masa karantina minimal 7 hari. Amati apakah sapi menunjukkan tanda-tanda sakit atau stres berat. Setelah kondisi stabil, baru bisa digabung ke kandang utama. Sumber: Peraturan Menteri Pertanian Nomor 17/Permentan/PK.300/5/2021 tentang Kesehatan Hewan dan Kesejahteraan Ternak.
8. Penerapan Transportasi yang Baik di Masa Depan
Untuk mengurangi stres pada perjalanan berikutnya, penting menerapkan Good Transport Practices (GTP) atau praktik pengangkutan ternak yang baik, seperti:
-
Jangan melebihi kapasitas kendaraan.
-
Gunakan ventilasi yang baik dan lantai tidak licin.
-
Berhenti setiap 4–5 jam untuk memberi minum dan istirahat.
-
Pilih waktu perjalanan pagi atau malam hari saat suhu tidak terlalu panas.
-
Hindari suara keras atau benturan selama perjalanan.
Menurut FAO (2022), penerapan transportasi yang baik dapat menurunkan tingkat stres hingga 60% dan menekan angka kematian ternak selama pengiriman.
Stres pada sapi setelah perjalanan jauh merupakan hal yang umum, tetapi bisa diatasi dengan penanganan yang tepat. Kunci utamanya adalah memberikan waktu adaptasi, menjaga kebersihan, mencukupi kebutuhan air dan pakan, serta melakukan pemeriksaan kesehatan rutin.
Dengan penerapan langkah-langkah tersebut, sapi akan lebih cepat pulih, kembali aktif, dan siap berproduksi dengan optimal. Selain itu, penerapan Good Transport Practices akan membantu mencegah stres di masa mendatang.
Intership SMKN 1 Bungo | Putri Ardiana Safara



