Ternak Tani – Setiap kegiatan peternakan pasti menghasilkan limbah, baik berupa kotoran padat, urin, sisa pakan, maupun air bekas pencucian kandang. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah ini bisa mencemari lingkungan dan menimbulkan bau tidak sedap. Namun, di sisi lain, limbah peternakan sebenarnya memiliki potensi besar sebagai sumber pupuk organik yang ramah lingkungan dan kaya nutrisi bagi tanaman.
Menurut data dari Kementerian Pertanian (Kementan, 2023), Indonesia memiliki populasi sapi potong lebih dari 18 juta ekor, sapi perah sekitar 700 ribu ekor, serta jutaan unggas dan kambing. Dari angka tersebut, limbah yang dihasilkan mencapai jutaan ton setiap tahun. Jika dimanfaatkan dengan benar, limbah ini bisa menjadi solusi alami untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia yang harganya semakin mahal.
Apa Itu Limbah Peternakan?
Limbah peternakan adalah sisa hasil dari kegiatan pemeliharaan hewan ternak, baik berupa limbah padat seperti kotoran, sisa pakan, bulu, dan jerami; maupun limbah cair seperti urin dan air bekas pembersihan kandang.
Menurut Balai Penelitian Ternak (Balitnak, 2022), sekitar 60–70% limbah peternakan berupa kotoran padat dan cair dapat diolah kembali menjadi bahan berguna, salah satunya pupuk organik. Selain ramah lingkungan, pemanfaatan limbah ini juga membantu peternak menekan biaya produksi serta meningkatkan produktivitas lahan pertanian.
Jenis Limbah Peternakan yang Bisa Dijadikan Pupuk Organik
Tidak semua limbah peternakan langsung bisa digunakan begitu saja. Beberapa jenis limbah perlu melalui proses fermentasi atau pengomposan agar aman dan efektif. Berikut beberapa jenis limbah yang bisa diolah menjadi pupuk organik:
-
Kotoran Ternak Padat (Feses)
Ini adalah bahan utama pembuatan pupuk organik. Kotoran sapi, kambing, ayam, maupun kelinci kaya akan nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K) yang sangat dibutuhkan tanaman. -
Urin Ternak (Cairan)
Urin ternak mengandung unsur hara yang tinggi, terutama nitrogen dan kalium. Biasanya diolah menjadi pupuk cair organik (POC). -
Sisa Pakan dan Jerami
Sisa pakan ternak dapat dijadikan bahan tambahan kompos karena mengandung serat dan karbon tinggi yang membantu proses pengomposan. -
Abu, Lumpur, dan Bulu Hewan
Meskipun jarang dimanfaatkan, bahan-bahan ini bisa dicampur dengan kotoran untuk menambah unsur mikro dalam pupuk.
Manfaat Pemanfaatan Limbah Peternakan Sebagai Pupuk Organik
Mengolah limbah menjadi pupuk organik memberikan manfaat yang luas, tidak hanya bagi petani tetapi juga bagi lingkungan sekitar.
-
Mengurangi Ketergantungan pada Pupuk Kimia
Harga pupuk kimia yang terus naik membuat petani kesulitan. Dengan pupuk organik, biaya bisa ditekan karena bahan bakunya mudah didapat dari kandang sendiri. -
Meningkatkan Kesuburan Tanah
Pupuk organik memperbaiki struktur tanah, meningkatkan daya serap air, serta memperbanyak mikroorganisme tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman (FAO, 2021). -
Mengurangi Pencemaran Lingkungan
Limbah peternakan yang dibuang sembarangan bisa mencemari air dan udara. Dengan diolah menjadi pupuk, dampak negatif ini dapat ditekan. -
Mendukung Pertanian Berkelanjutan
Pemanfaatan limbah sebagai pupuk organik adalah bagian dari sistem pertanian berkelanjutan, di mana limbah dari satu sektor (peternakan) menjadi input bagi sektor lain (pertanian).
Cara Mengolah Limbah Peternakan Menjadi Pupuk Organik
Proses pembuatan pupuk organik dari limbah peternakan sebenarnya sederhana dan bisa dilakukan di tingkat rumah tangga atau skala kecil.
1. Pengolahan Pupuk Kompos Padat
Bahan-bahan yang diperlukan:
-
Kotoran sapi, kambing, atau ayam
-
Jerami atau sekam padi
-
EM4 (bakteri pengurai), gula merah, dan air
Langkah-langkah:
-
Campurkan kotoran ternak dengan jerami secara merata.
-
Larutkan EM4 dan gula merah ke dalam air, kemudian siramkan ke campuran bahan.
-
Tutup rapat menggunakan terpal agar proses fermentasi berjalan baik.
-
Balik bahan setiap 3–5 hari agar tidak terlalu panas.
-
Setelah 3–4 minggu, pupuk kompos siap digunakan.
Menurut penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM, 2022), proses pengomposan dengan bantuan EM4 dapat mempercepat dekomposisi hingga 40% dibandingkan tanpa pengurai.
2. Pengolahan Pupuk Cair (POC)
Bahan:
-
Urin sapi atau kambing
-
Air, gula merah, dan EM4
Cara membuat:
-
Campur semua bahan dalam wadah tertutup.
-
Fermentasi selama 7–14 hari.
-
Pupuk cair siap digunakan dengan cara diencerkan (1:10) sebelum disemprot ke tanaman.
Efektivitas Pupuk Organik dari Limbah Peternakan
Penelitian dari Institut Pertanian Bogor (IPB, 2021) menunjukkan bahwa penggunaan pupuk organik dari kotoran sapi mampu meningkatkan hasil panen padi hingga 15% dibanding lahan yang hanya menggunakan pupuk kimia. Selain itu, tanah yang diberi pupuk organik memiliki kadar bahan organik yang lebih tinggi sehingga tidak mudah kering dan gembur.
Selain untuk tanaman pangan, pupuk ini juga cocok untuk sayuran, buah-buahan, dan tanaman hias. Petani yang menggunakan pupuk organik secara rutin melaporkan bahwa warna daun tanaman menjadi lebih hijau, bunga lebih banyak, dan buah lebih besar.
Dampak Ekologis dan Ekonomi
Pemanfaatan limbah peternakan sebagai pupuk organik tidak hanya menguntungkan secara ekonomi tetapi juga ekologis.
-
Secara Ekologis, praktik ini membantu menurunkan emisi gas rumah kaca karena limbah tidak lagi membusuk di alam terbuka yang bisa menghasilkan gas metana (CH₄).
-
Secara Ekonomi, peternak bisa menjual pupuk hasil olahan sebagai produk tambahan, meningkatkan pendapatan rumah tangga petani.
Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK, 2023), satu ekor sapi bisa menghasilkan sekitar 10–15 kg kotoran per hari. Jika diolah dengan benar, satu kandang berisi 10 ekor sapi bisa menghasilkan lebih dari 3 ton pupuk organik per bulan—potensi ekonomi yang sangat menjanjikan bagi petani lokal.
Tantangan dan Solusi
Meski banyak manfaatnya, masih ada beberapa tantangan dalam penerapan sistem ini, seperti:
-
Kurangnya pengetahuan peternak tentang teknik pengolahan limbah.
-
Keterbatasan alat fermentasi skala kecil.
-
Persepsi bahwa pupuk organik lebih “lemah” dibanding pupuk kimia.
Untuk mengatasinya, pemerintah bersama lembaga pertanian telah mengadakan program pelatihan dan pendampingan bagi petani-peternak agar bisa memanfaatkan limbah dengan efektif. Misalnya, melalui program Kampung Organik Indonesia (Kementan, 2024) yang mendukung petani dalam produksi pupuk organik mandiri.
Pemanfaatan limbah peternakan sebagai pupuk organik adalah langkah cerdas menuju pertanian yang lebih efisien, hemat biaya, dan berkelanjutan. Selain mengurangi pencemaran lingkungan, pupuk organik juga mampu memperbaiki kualitas tanah dan hasil pertanian.
Intership SMKN 1 Bungo | Putri Ardiana Safara



