Ternak Tani – Bagi peternak sapi, memahami biaya produksi per ekor adalah langkah penting untuk menentukan apakah usaha ternak menguntungkan atau tidak. Banyak peternak yang hanya fokus pada hasil penjualan tanpa memperhitungkan seluruh biaya yang dikeluarkan selama masa pemeliharaan. Akibatnya, keuntungan yang didapat tidak optimal, bahkan bisa merugi.
Menurut data dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH, 2024), efisiensi produksi merupakan faktor utama dalam keberhasilan peternakan sapi potong. Dengan menghitung biaya produksi secara rinci, peternak dapat mengetahui berapa harga pokok produksi (HPP) per ekor, serta menentukan harga jual yang realistis agar tetap mendapat margin keuntungan yang baik.
1. Pengertian Biaya Produksi dalam Peternakan Sapi
Biaya produksi adalah seluruh pengeluaran yang digunakan selama proses pemeliharaan sapi hingga siap dijual. Dalam konteks peternakan sapi, biaya produksi mencakup:
-
Biaya pembelian sapi bakalan,
-
Biaya pakan,
-
Biaya tenaga kerja,
-
Biaya kandang dan peralatan,
-
Biaya kesehatan,
-
Serta biaya lain seperti listrik, air, dan transportasi.
Menurut Kementerian Pertanian (Kementan, 2023), pembagian biaya dalam peternakan sapi bisa dikategorikan menjadi dua, yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost).
-
Biaya tetap adalah pengeluaran yang tidak berubah meskipun jumlah sapi berubah, seperti biaya kandang atau peralatan.
-
Biaya variabel berubah sesuai jumlah sapi dan durasi pemeliharaan, seperti pakan dan obat-obatan.
2. Komponen Utama dalam Menghitung Biaya Produksi Sapi per Ekor
Agar hasil perhitungan lebih akurat, peternak perlu memahami setiap komponen biaya secara detail.
a. Biaya Pembelian Sapi Bakalan
Ini adalah modal awal yang paling besar. Harga sapi bakalan bervariasi tergantung jenis dan bobot. Misalnya, sapi jenis PO (Peranakan Ongole) dengan bobot 250 kg bisa mencapai Rp12โ15 juta per ekor (sumber: harga pasar sapi lokal, InfoTernak.id, 2024).
b. Biaya Pakan
Biaya pakan biasanya menyumbang 60โ70% dari total biaya produksi. Dalam satu hari, satu ekor sapi membutuhkan pakan sekitar 10% dari bobot tubuhnya dalam bentuk hijauan dan konsentrat.
Jika sapi berbobot 300 kg, maka butuh 30 kg pakan per hari.
-
Hijauan (rumput gajah, jerami fermentasi) sekitar Rp1.000/kg,
-
Konsentrat (bekatul, dedak, bungkil kedelai, dll) Rp3.000/kg.
Perkiraan total pakan harian = (20 kg x Rp1.000) + (10 kg x Rp3.000) = Rp50.000/hari.
Dalam 6 bulan (180 hari), total biaya pakan = Rp50.000 x 180 = Rp9.000.000 per ekor.
c. Biaya Tenaga Kerja
Untuk peternakan kecil, biasanya satu orang bisa menangani 10 ekor sapi. Jika gaji pekerja Rp2.000.000 per bulan, maka biaya tenaga kerja per ekor adalah:
Rp2.000.000 รท 10 = Rp200.000/bulan.
Dalam 6 bulan pemeliharaan: Rp200.000 x 6 = Rp1.200.000 per ekor.
d. Biaya Kesehatan dan Obat-obatan
Termasuk vaksinasi, vitamin, dan obat cacing. Rata-rata sekitar Rp100.000โ200.000 per ekor selama masa penggemukan. Sumber: Balai Besar Veteriner Yogyakarta (2023).
e. Biaya Kandang dan Peralatan
Jika peternak membangun kandang baru, biaya ini dihitung berdasarkan penyusutan (depresiasi). Misalnya kandang Rp10 juta berumur 10 tahun, maka biaya penyusutan per tahun Rp1 juta. Jika kandang digunakan untuk 10 ekor sapi, maka biaya kandang per ekor per tahun Rp100.000. Untuk masa pemeliharaan 6 bulan, biayanya sekitar Rp50.000 per ekor.
f. Biaya Lain-lain
Biaya tambahan seperti listrik, air, transportasi pakan, dan biaya tak terduga lain sekitar Rp300.000 per ekor selama masa pemeliharaan.
3. Contoh Perhitungan Biaya Produksi Sapi per Ekor
Berikut contoh sederhana menghitung biaya produksi sapi potong selama 6 bulan penggemukan:
| Komponen Biaya | Jumlah (Rp) |
|---|---|
| Sapi Bakalan | 13.000.000 |
| Pakan | 9.000.000 |
| Tenaga Kerja | 1.200.000 |
| Kesehatan | 150.000 |
| Kandang & Peralatan | 50.000 |
| Biaya Lain-lain | 300.000 |
| Total Biaya Produksi | 23.700.000 |
Setelah 6 bulan, sapi bobot awal 250 kg bisa naik menjadi 400 kg. Jika harga jual sapi hidup Rp95.000/kg, maka nilai jual:
400 kg x Rp95.000 = Rp38.000.000.
Keuntungan kotor:
Rp38.000.000 – Rp23.700.000 = Rp14.300.000 per ekor.
Keuntungan bersih bisa lebih rendah jika ada biaya tambahan, namun masih menunjukkan bahwa penggemukan sapi cukup menguntungkan jika dikelola dengan baik.
4. Cara Menekan Biaya Produksi Tanpa Menurunkan Kualitas
Menekan biaya produksi bukan berarti mengorbankan kesehatan atau pertumbuhan sapi. Ada beberapa strategi efisiensi yang disarankan oleh Pusat Penelitian Peternakan Indonesia (Puslitbangnak, 2024):
-
Gunakan pakan lokal berkualitas.
Kombinasi jerami fermentasi, rumput gajah, dan limbah pertanian bisa menekan biaya hingga 30%. Fermentasi membantu meningkatkan kandungan protein pakan (Sumber: Jurnal Peternakan Tropika, 2023). -
Manfaatkan teknologi digital.
Peternak kini bisa menggunakan aplikasi seperti SapiHub atau Ternakku.id untuk mencatat pakan, bobot harian, dan biaya secara otomatis. Dengan data real-time, pengambilan keputusan menjadi lebih akurat. -
Penerapan manajemen kandang yang baik.
Kebersihan kandang dan sirkulasi udara yang baik membantu sapi tumbuh sehat tanpa perlu sering diberi obat. -
Berkolaborasi dengan koperasi atau kelompok ternak.
Dengan bergabung ke koperasi, peternak bisa membeli pakan dalam jumlah besar dengan harga lebih murah dan menjual sapi secara kolektif dengan harga lebih tinggi.
5. Menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) dan Harga Jual Ideal
Setelah mengetahui total biaya produksi, langkah selanjutnya adalah menghitung Harga Pokok Produksi (HPP).
Rumusnya sederhana:
HPP = Total Biaya Produksi รท Jumlah Sapi
Jika dari contoh di atas total biaya Rp23.700.000 untuk 1 ekor, maka HPP-nya adalah Rp23.700.000 per ekor.
Untuk menentukan harga jual, peternak bisa menambahkan margin keuntungan minimal 20โ30%.
Misalnya, jika HPP Rp23.700.000, maka harga jual ideal:
Rp23.700.000 + (30% x Rp23.700.000) = Rp30.810.000.
Namun, karena harga pasar sapi dihitung per kilogram bobot hidup, peternak juga perlu memperkirakan bobot sapi saat panen agar tidak menjual di bawah harga pasar.
Menghitung biaya produksi sapi per ekor sangat penting agar usaha ternak berjalan efisien dan menguntungkan. Peternak perlu memperhatikan semua komponen biaya, dari pembelian sapi, pakan, tenaga kerja, hingga biaya tak langsung.
Intership SMKN 1 Bungo | Putri Ardiana Safara



