Ternak Tani – Dalam usaha ternak ayam, baik skala kecil maupun besar, kemampuan menghitung biaya produksi dan keuntungan adalah kunci utama untuk menentukan keberlanjutan bisnis. Banyak peternak gagal berkembang bukan karena kurang modal, tetapi karena tidak memahami perhitungan keuangan yang tepat.
Menurut Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (2023), salah satu indikator keberhasilan peternak adalah ketika mereka mampu menjaga keseimbangan antara biaya produksi dan harga jual ayam di pasaran. Artinya, semakin efisien biaya yang dikeluarkan, semakin besar peluang memperoleh keuntungan.
Dengan memahami perhitungan biaya produksi, peternak dapat mengetahui berapa modal yang dibutuhkan, kapan waktu balik modal, serta strategi harga jual yang tepat untuk pasar lokal.
Komponen Biaya Produksi Ternak Ayam
Untuk menghitung keuntungan, kita harus mengetahui dulu semua komponen biaya produksi. Secara umum, biaya dalam usaha ternak ayam terbagi menjadi dua kategori besar: biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost).
-
Biaya Tetap (Fixed Cost)
Biaya tetap adalah biaya yang tidak berubah walaupun jumlah ayam yang dipelihara berbeda. Contohnya:-
Sewa lahan atau kandang
-
Penyusutan kandang dan peralatan
-
Gaji karyawan tetap
-
Pajak dan perizinan usaha
Misalnya, jika Anda menyewa lahan Rp2.000.000 per tahun dan menggunakan kandang senilai Rp10.000.000 dengan umur ekonomis 5 tahun, maka biaya penyusutan kandang per tahun adalah:
Jadi, total biaya tetap tahunan = Rp2.000.000 (sewa) + Rp2.000.000 (penyusutan) = Rp4.000.000 per tahun.
-
-
Biaya Variabel (Variable Cost)
Biaya ini berubah sesuai dengan jumlah ayam yang dipelihara. Contohnya:-
Bibit DOC (Day Old Chick)
-
Pakan ayam
-
Obat dan vitamin
-
Listrik dan air
-
Upah tenaga kerja harian
Sebagai contoh, jika Anda memelihara 100 ekor ayam pedaging, dan satu ekor DOC berharga Rp7.000, maka biaya bibit adalah:
Lalu, untuk pakan, misalnya ayam pedaging butuh 3 kg pakan selama masa pemeliharaan (40 hari) dengan harga Rp10.000/kg, maka biaya pakan total:
Jadi, total biaya variabel = Rp700.000 (bibit) + Rp3.000.000 (pakan) + biaya obat, air, dan lain-lain (misal Rp300.000) = Rp4.000.000.
-
Rumus Menghitung Total Biaya Produksi
Setelah mengetahui semua komponennya, maka total biaya produksi (TC) dapat dihitung dengan rumus sederhana:
Menggunakan contoh di atas:
Artinya, untuk satu periode pemeliharaan (sekitar 40 hari), total biaya yang dikeluarkan adalah Rp8 juta.
Cara Menghitung Pendapatan dan Keuntungan Usaha Ternak Ayam
Setelah mengetahui biaya produksi, langkah berikutnya adalah menghitung pendapatan (revenue) dan keuntungan (profit).
Rumus pendapatan adalah:
Misalnya, dari 100 ayam yang dipelihara, terdapat 5 ekor mati, sehingga hanya 95 ekor yang bisa dijual. Jika harga jual per ekor adalah Rp40.000, maka:
Lalu, rumus keuntungan adalah:
Dengan data di atas:
Artinya, usaha masih merugi karena biaya produksi lebih tinggi dari pendapatan. Ini menjadi sinyal bagi peternak untuk mencari efisiensi, misalnya menekan biaya pakan, meningkatkan angka hidup ayam, atau mencari harga jual yang lebih baik di pasar.
Analisis Break Even Point (BEP) dalam Usaha Ayam
Break Even Point (BEP) adalah titik impas, yaitu kondisi di mana total pendapatan sama dengan total biaya produksi (tidak untung, tidak rugi). Rumus BEP dalam unit ayam adalah:
Dengan contoh di atas:
Artinya, agar usaha tidak merugi, peternak harus menjual minimal 200 ekor ayam dengan harga Rp40.000 per ekor. Dari situ, Anda bisa menentukan target produksi dan skala usaha yang ideal.
Sumber referensi metode BEP: Kementerian Pertanian RI (modul pelatihan agribisnis 2022).
Strategi Menekan Biaya Produksi agar Keuntungan Maksimal
Untuk meningkatkan keuntungan, peternak bisa menerapkan beberapa strategi efisiensi biaya, seperti:
-
Gunakan pakan alternatif berkualitas.
Pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi (60–70%). Anda dapat membuat pakan fermentasi dari bekatul, jagung giling, dan ampas tahu untuk menekan biaya (sumber: Balitnak, 2023). -
Pilih bibit unggul.
DOC berkualitas tinggi memiliki tingkat kematian rendah dan pertumbuhan cepat, sehingga menghemat biaya perawatan. -
Kelola manajemen kandang dengan baik.
Ventilasi, kebersihan, dan suhu kandang sangat berpengaruh terhadap kesehatan ayam. Kandang yang bersih mengurangi risiko penyakit dan menekan biaya obat. -
Gunakan sistem pencatatan keuangan sederhana.
Catat semua pengeluaran dan pemasukan. Dengan data yang akurat, peternak bisa mengidentifikasi pos biaya terbesar dan mencari cara untuk menekannya. -
Jual langsung ke konsumen atau warung.
Dengan memotong rantai distribusi, peternak bisa mendapatkan margin keuntungan lebih besar daripada menjual ke tengkulak.
Contoh Sederhana Analisis Keuntungan Usaha Ayam Pedaging
Berikut contoh simulasi untuk 500 ekor ayam pedaging:
| Komponen Biaya | Jumlah (Rp) |
|---|---|
| DOC (500 ekor × Rp7.000) | 3.500.000 |
| Pakan (500 × 3 kg × Rp10.000) | 15.000.000 |
| Obat & Vitamin | 1.000.000 |
| Listrik & Air | 500.000 |
| Penyusutan Kandang | 2.000.000 |
| Upah Tenaga Kerja | 2.000.000 |
| Total Biaya Produksi | 24.000.000 |
Pendapatan:
Keuntungan:
Namun, jika harga jual naik menjadi Rp55.000 per ekor:
Jadi, kenaikan harga jual sebesar Rp10.000 per ekor bisa mengubah hasil usaha dari rugi menjadi untung.
Menghitung biaya produksi dan keuntungan ternak ayam merupakan langkah penting dalam menjaga keberlanjutan usaha. Dengan mencatat setiap pengeluaran dan memahami komponen biaya, peternak dapat membuat keputusan yang lebih bijak.
Langkah utama yang perlu diingat:
-
Catat semua pengeluaran (biaya tetap dan variabel).
-
Hitung total biaya produksi dan pendapatan.
-
Tentukan BEP agar tahu titik impas.
-
Lakukan efisiensi pada biaya terbesar, terutama pakan.
Dengan manajemen yang baik dan strategi efisiensi, usaha ternak ayam rumahan bisa menjadi sumber penghasilan stabil dan menguntungkan.
Intership SMKN 1 Bungo | Ahmad Sarino



