Cara Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca dari Peternakan

Gemini Generated Image Qnevgeqnevgeqnev Gemini Generated Image Qnevgeqnevgeqnev

Ternak Tani – Peternakan, terutama yang berskala besar, menghasilkan emisi gas rumah kaca seperti metana (CH₄), nitrous oksida (N₂O), dan karbon dioksida (CO₂). Gas-gas ini berasal dari proses pencernaan ternak, penguraian kotoran, dan penggunaan energi dalam pengelolaan peternakan.

Menurut laporan Food and Agriculture Organization (FAO, 2023), sektor peternakan menyumbang sekitar 14,5% dari total emisi gas rumah kaca global. Dari jumlah itu, metana dari sistem pencernaan sapi menjadi penyumbang terbesar. Metana bahkan memiliki daya pemanasan 28 kali lebih besar dibanding karbon dioksida.

Dengan kata lain, semakin banyak ternak yang dipelihara tanpa manajemen lingkungan yang baik, semakin tinggi pula kontribusi terhadap pemanasan global. Karena itu, penting bagi peternak dan masyarakat untuk memahami cara mengurangi dampak tersebut tanpa mengorbankan produktivitas.

Mengelola Pakan untuk Mengurangi Emisi Metana

Salah satu cara paling efektif mengurangi emisi gas rumah kaca adalah melalui pengelolaan pakan ternak. Pakan berpengaruh langsung pada proses fermentasi di dalam perut hewan, terutama sapi, yang menghasilkan gas metana.

Menurut penelitian dari Institut Pertanian Bogor (IPB, 2021), pemberian pakan dengan kandungan serat yang terlalu tinggi dapat meningkatkan produksi metana. Sebaliknya, pakan dengan kualitas tinggi seperti rumput muda, leguminosa (misalnya lamtoro dan gamal), atau pakan fermentasi bisa menurunkan emisi metana hingga 20–30%.

Selain itu, penambahan aditif pakan alami seperti minyak kelapa, biji rami, atau tanaman kaya tanin juga terbukti menekan produksi metana di dalam rumen sapi (Sumber: Journal of Cleaner Production, 2022). Dengan begitu, peternak tidak hanya mengurangi emisi tetapi juga meningkatkan efisiensi pencernaan dan pertumbuhan ternak.

Pemanfaatan Kotoran Ternak Menjadi Energi Biogas

Kotoran ternak yang dibiarkan menumpuk di kandang akan melepaskan gas metana dan amonia ke atmosfer. Padahal, jika dikelola dengan baik, kotoran tersebut bisa menjadi sumber energi ramah lingkungan, yaitu biogas.

Baca Juga  Pentingnya Genetika dalam Pembibitan Sapi Unggul

Biogas dihasilkan dari proses fermentasi anaerob, di mana kotoran sapi diurai oleh mikroorganisme dalam kondisi tanpa oksigen. Hasilnya berupa gas metana yang bisa dimanfaatkan untuk memasak, menyalakan genset, atau bahkan dijual sebagai energi alternatif.

Program biogas sudah banyak dikembangkan di Indonesia. Misalnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui program Indonesia Domestic Biogas (IDBP) melaporkan bahwa satu unit reaktor biogas berkapasitas 6 m³ mampu mengurangi 1,5 ton emisi CO₂ setiap tahun.

Selain ramah lingkungan, teknologi biogas juga menghemat pengeluaran peternak untuk bahan bakar dan pupuk, karena sisa fermentasi (slurry) dapat digunakan sebagai pupuk organik berkualitas tinggi.

Menerapkan Sistem Peternakan Terpadu (Integrated Farming System)

Sistem peternakan terpadu merupakan pendekatan yang menggabungkan antara peternakan, pertanian, dan energi dalam satu siklus berkelanjutan. Contohnya, limbah dari peternakan seperti kotoran digunakan untuk pupuk tanaman, sementara sisa tanaman digunakan kembali sebagai pakan ternak.

Menurut Kementerian Pertanian (Kementan, 2022), sistem ini mampu menekan limbah hingga 50% dan mengurangi emisi gas rumah kaca karena tidak ada sisa bahan organik yang terbuang ke lingkungan.

Dengan cara ini, setiap elemen saling menguntungkan:

  1. Limbah ternak menjadi pupuk organik.

  2. Limbah pertanian seperti jerami dan dedak digunakan sebagai pakan.

  3. Energi biogas digunakan untuk kebutuhan peternakan dan rumah tangga.

Peternakan terpadu juga cocok diterapkan oleh peternak kecil dan menengah karena tidak membutuhkan lahan besar, hanya perlu manajemen yang baik dan pemanfaatan sumber daya lokal.

Memperbaiki Manajemen Kandang dan Limbah

Kualitas udara di sekitar peternakan juga mempengaruhi jumlah gas rumah kaca yang dilepaskan. Kotoran yang dibiarkan terbuka dan lembap mempercepat pelepasan gas metana dan amonia. Oleh karena itu, manajemen kandang dan limbah yang baik sangat penting.

Baca Juga  Kandungan Gizi yang Dibutuhkan Sapi Setiap Hari

Langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan peternak antara lain:

  1. Membersihkan kandang setiap hari agar limbah tidak menumpuk.

  2. Menyimpan kotoran di tempat tertutup sebelum diolah menjadi pupuk atau biogas.

  3. Mengatur ventilasi kandang agar udara mengalir lancar dan mengurangi kelembapan.

  4. Menggunakan alas kandang berpori seperti sekam padi atau pasir agar limbah cair terserap dengan baik.

Menurut Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH, 2023), penerapan manajemen limbah sederhana ini dapat mengurangi emisi gas hingga 15–20% per tahun di tingkat peternakan kecil.

Menanam Pohon di Sekitar Peternakan (Agroforestry)

Menanam pohon di sekitar peternakan juga menjadi langkah penting dalam menekan emisi gas rumah kaca. Pohon berfungsi menyerap karbon dioksida (CO₂) dari udara dan mengubahnya menjadi oksigen melalui proses fotosintesis.

Sistem agroforestry atau pertanian-peternakan terpadu dengan pepohonan membantu:

  1. Menyeimbangkan emisi karbon.

  2. Menurunkan suhu mikro di sekitar kandang.

  3. Memberikan pakan tambahan berupa daun-daunan.

Studi dari Universitas Gadjah Mada (UGM, 2020) menunjukkan bahwa peternakan yang menerapkan agroforestry dapat menurunkan emisi karbon hingga 25% dibanding peternakan konvensional. Selain manfaat lingkungan, pepohonan juga melindungi ternak dari panas ekstrem dan menambah nilai ekonomi (misalnya hasil kayu, buah, atau pakan hijauan).

Menggunakan Teknologi Hijau dalam Peternakan

Kemajuan teknologi kini memungkinkan peternakan menjadi lebih efisien dan ramah lingkungan. Misalnya:

  1. Sensor kandang otomatis untuk mengatur suhu, kelembapan, dan ventilasi.

  2. Alat pemantau emisi digital untuk mengukur gas metana dan karbon dioksida.

  3. Fermentasi pakan modern untuk meningkatkan efisiensi pencernaan ternak.

Menurut laporan dari World Bank (2023), penerapan teknologi hijau di peternakan mampu menurunkan emisi hingga 35%, sambil meningkatkan produktivitas hingga 20%. Artinya, semakin canggih teknologi yang digunakan, semakin kecil jejak karbon yang dihasilkan.

Baca Juga  Kandang Sapi Ideal, Bikin Cuan dan Ternak Nyaman!

Edukasi dan Kesadaran Peternak

Tidak kalah penting, edukasi dan kesadaran peternak terhadap dampak lingkungan harus terus ditingkatkan. Banyak peternak belum mengetahui bahwa kegiatan sederhana seperti menumpuk kotoran atau menggunakan pakan tidak seimbang dapat berdampak besar pada lingkungan global.

Pemerintah bersama lembaga swasta dapat mengadakan pelatihan dan pendampingan tentang peternakan berkelanjutan, pengelolaan biogas, dan pemanfaatan limbah. Dengan edukasi yang berkelanjutan, perubahan kecil di tingkat peternak akan memberikan dampak besar dalam jangka panjang.

Mengurangi emisi gas rumah kaca dari peternakan bukan hal yang mustahil. Langkah-langkah seperti mengelola pakan, memanfaatkan biogas, menerapkan sistem terpadu, memperbaiki manajemen kandang, menanam pohon, hingga menggunakan teknologi hijau dapat memberikan hasil nyata.

Intership SmKN 1 BUngo | Putri Ardiana Safara

Related Posts

SpiSpi
Inspirasi dari Peternak Sapi Perempuan yang Tangguh
Usaha Jaya Printing - Dalam beberapa tahun terakhir, dunia peternakan...
Read more
Gemini Generated Image 38ipxr38ipxr38ipGemini Generated Image 38ipxr38ipxr38ip
Kisah Inovatif Peternak Sapi di Tengah Pandemi
Ternak Tani - Pandemi COVID-19 mengubah banyak hal, termasuk sektor...
Read more
Gemini Generated Image Qt9wndqt9wndqt9wGemini Generated Image Qt9wndqt9wndqt9w
Perjalanan Peternak Desa Menjadi Pengusaha Daging Nasional
Ternak Tani - Menjadi pengusaha daging nasional tidak selalu dimulai...
Read more

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *