Ternak Tani – Produktivitas reproduksi sapi adalah salah satu faktor penting dalam keberhasilan usaha peternakan. Semakin tinggi tingkat kelahiran dan angka keberhasilan kawin, maka semakin cepat pula populasi dan keuntungan yang didapat peternak. Namun, banyak peternak di Indonesia masih menghadapi masalah rendahnya tingkat kebuntingan dan lamanya jarak antar kelahiran sapi betina.
Menurut Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (2023), rata-rata jarak beranak (calving interval) sapi di Indonesia masih sekitar 15–18 bulan, padahal idealnya hanya 12–14 bulan. Artinya, masih ada ruang besar untuk meningkatkan efisiensi reproduksi sapi agar lebih produktif.
1. Pakan Bergizi untuk Mendukung Reproduksi
Nutrisi adalah fondasi utama untuk menjaga kesuburan sapi. Sapi betina yang kekurangan gizi cenderung mengalami gangguan siklus birahi dan sulit bunting.
Menurut Balai Penelitian Ternak (Balitnak, 2022), pakan yang ideal bagi sapi produktif harus mengandung:
-
Energi (dari hijauan dan konsentrat seperti dedak padi, jagung, dan bungkil kelapa)
-
Protein kasar 12–16% untuk membantu pembentukan sel telur dan hormon reproduksi
-
Mineral kalsium, fosfor, dan zinc yang berperan dalam fungsi hormonal dan kualitas embrio
Peternak disarankan memberikan pakan hijauan segar 10% dari bobot badan sapi, ditambah pakan konsentrat 1–2% dari bobot badan per hari. Pemberian air bersih secara bebas juga penting agar metabolisme berjalan lancar.
Contohnya, sapi betina dengan bobot 400 kg sebaiknya mendapat 40 kg hijauan dan 4–6 kg konsentrat per hari. Dengan nutrisi cukup, sapi lebih cepat birahi dan siap dikawinkan kembali setelah melahirkan.
2. Deteksi Birahi yang Tepat Waktu
Mengetahui waktu birahi sapi betina dengan tepat menjadi kunci utama keberhasilan kawin atau inseminasi buatan.
Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak, 2021), tanda-tanda birahi sapi antara lain:
-
Sapi tampak gelisah dan sering melenguh
-
Nafsu makan menurun
-
Sering menaiki sapi lain atau mau dinaiki
-
Vulva (kemaluan) membengkak dan mengeluarkan lendir bening
Waktu terbaik untuk mengawinkan sapi adalah 12–18 jam setelah tanda-tanda birahi pertama muncul. Jika digunakan inseminasi buatan (IB), peternak dapat menghubungi inseminator agar waktu pembuahan tepat sasaran.
Deteksi birahi yang cepat dan akurat dapat memperpendek calving interval, sehingga produktivitas reproduksi meningkat secara signifikan.
3. Penerapan Inseminasi Buatan (IB) yang Tepat
Teknik Inseminasi Buatan (IB) telah menjadi metode populer untuk meningkatkan produktivitas reproduksi sapi di Indonesia. Dengan IB, peternak dapat menggunakan semen dari pejantan unggul tanpa harus memelihara jantan di kandang.
Menurut Kementerian Pertanian (2023), keberhasilan IB dipengaruhi oleh tiga faktor utama:
-
Kondisi birahi sapi harus optimal saat IB dilakukan.
-
Kualitas semen beku harus disimpan dengan benar pada suhu -196°C menggunakan nitrogen cair.
-
Keterampilan inseminator, karena penempatan semen di saluran reproduksi sapi harus tepat.
Jika dilakukan dengan benar, tingkat kebuntingan bisa mencapai 70–80%. Program pemerintah seperti “Upsus Siwab (Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting)” juga membantu peternak melalui pelatihan dan layanan IB gratis di berbagai daerah.
4. Perawatan Sapi Setelah Kawin atau IB
Setelah kawin atau inseminasi, sapi betina memerlukan perhatian khusus agar embrio dapat berkembang dengan baik. Beberapa langkah penting meliputi:
-
Memberikan pakan bergizi dan seimbang, karena kekurangan nutrisi dapat menyebabkan keguguran dini.
-
Menghindari stres, seperti suara keras atau perpindahan kandang yang mendadak.
-
Mengontrol parasit dan penyakit, karena infeksi pada rahim dapat menurunkan tingkat kebuntingan.
Menurut Jurnal Peternakan Indonesia (2022), sekitar 15–20% kasus kegagalan kebuntingan pada sapi di Indonesia disebabkan oleh infeksi bakteri endometritis akibat kurang higienisnya proses IB. Maka dari itu, kebersihan alat dan tangan inseminator sangat menentukan hasil reproduksi sapi.
5. Pemeriksaan Kebuntingan Secara Rutin
Untuk memastikan keberhasilan kawin atau IB, pemeriksaan kebuntingan sebaiknya dilakukan 30–45 hari setelah inseminasi. Pemeriksaan bisa dilakukan oleh petugas menggunakan metode palpasi rektal (pemeriksaan melalui anus) atau dengan alat ultrasonografi (USG).
Menurut FAO (Food and Agriculture Organization, 2023), pemeriksaan kebuntingan dini membantu peternak:
-
Mengetahui sapi yang tidak bunting lebih cepat
-
Mengulang IB pada waktu yang tepat
-
Menghindari kehilangan waktu produktif
Sapi yang dinyatakan bunting harus diberi perhatian ekstra pada pakan, vitamin, dan kesehatan fisiknya agar melahirkan pedet sehat serta siap kembali bereproduksi setelah masa menyusui.
6. Menjaga Kesehatan Reproduksi Sapi
Kesehatan organ reproduksi sangat berpengaruh terhadap produktivitas. Infeksi, kekurangan nutrisi, atau gangguan hormonal bisa menyebabkan kemandulan sementara (infertilitas).
Beberapa langkah pencegahan meliputi:
-
Membersihkan kandang setiap hari agar sapi tidak terpapar bakteri penyebab penyakit reproduksi.
-
Memberikan vaksinasi rutin seperti vaksin Brucellosis dan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
-
Mengecek organ reproduksi secara berkala terutama pada sapi yang sulit bunting.
Menurut Balai Veteriner Lampung (2023), penyakit Brucellosis dapat menurunkan tingkat kebuntingan hingga 30% dan menyebabkan keguguran pada sapi betina. Oleh karena itu, kebersihan dan vaksinasi merupakan langkah wajib untuk menjaga kesuburan.
7. Pencatatan Data Reproduksi Sapi
Langkah terakhir yang sering diabaikan oleh peternak adalah pencatatan reproduksi. Catatan ini membantu memantau siklus birahi, tanggal kawin, dan hasil kebuntingan.
Peternak bisa mencatat:
-
Tanggal birahi dan inseminasi
-
Nama atau kode pejantan (untuk IB)
-
Tanggal pemeriksaan kebuntingan dan hasilnya
-
Tanggal melahirkan
Dengan pencatatan ini, peternak dapat mengetahui kapan sapi perlu dikawinkan kembali, menghindari keterlambatan, dan meningkatkan efisiensi produksi anak sapi.
Menurut Ditjen Peternakan (2023), peternak yang memiliki sistem pencatatan baik mampu meningkatkan tingkat kelahiran hingga 20% lebih tinggi dibanding yang tidak mencatat sama sekali.
Meningkatkan produktivitas reproduksi sapi tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan kombinasi antara pakan bergizi, deteksi birahi tepat waktu, penerapan inseminasi buatan yang benar, pemeriksaan kebuntingan rutin, dan pemeliharaan kesehatan reproduksi.
Intership SMKN 1 Bungo | Putri Ardiana Safara



