Ternak Tani – Pembiakan sapi adalah salah satu tahap paling penting dalam usaha peternakan karena menentukan jumlah dan kualitas keturunan yang dihasilkan. Sayangnya, banyak peternak yang belum memahami dengan benar cara mengelola proses pembiakan ini, sehingga berdampak pada rendahnya tingkat keberhasilan reproduksi. Menurut Kementerian Pertanian RI (2023), tingkat keberhasilan kebuntingan sapi di Indonesia masih di bawah 60%, sebagian besar disebabkan oleh kesalahan teknis dalam manajemen reproduksi.
Dalam artikel ini, kita akan membahas berbagai kesalahan umum dalam pengelolaan pembiakan sapi, mengapa hal tersebut terjadi, dan bagaimana cara menghindarinya agar produktivitas ternak meningkat.
1. Tidak Mencatat Data Reproduksi Sapi
Kesalahan pertama yang sering dilakukan peternak adalah tidak mencatat data reproduksi sapi seperti tanggal birahi, inseminasi, atau kelahiran. Banyak peternak hanya mengandalkan ingatan, padahal setiap sapi memiliki siklus reproduksi yang berbeda.
Menurut Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang (2022), pencatatan reproduksi sangat penting untuk mengetahui kapan sapi siap kawin lagi dan mengevaluasi keberhasilan inseminasi. Tanpa pencatatan, peternak sering terlambat mendeteksi birahi atau tidak tahu kapan sapi harus dikawinkan kembali.
Solusi:
Gunakan buku catatan sederhana atau aplikasi peternakan untuk mencatat semua data penting seperti tanggal inseminasi, hasil kebuntingan, dan waktu melahirkan. Dengan begitu, peternak bisa mengatur jadwal perkawinan dengan lebih efisien.
2. Salah Mendeteksi Birahi pada Sapi Betina
Kesalahan kedua adalah gagal mendeteksi tanda-tanda birahi. Banyak peternak yang tidak memperhatikan perilaku sapi secara teliti, sehingga proses kawin atau inseminasi buatan dilakukan pada waktu yang tidak tepat.
Tanda-tanda birahi sapi betina antara lain sering melenguh, nafsu makan berkurang, vulva bengkak dan berair, serta sering menaiki sapi lain (Sumber: Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2023).
Jika inseminasi dilakukan terlalu awal atau terlambat dari masa birahi, peluang terjadinya kebuntingan menurun drastis.
Solusi:
Amati sapi minimal dua kali sehari, pagi dan sore. Waktu terbaik untuk melakukan inseminasi adalah sekitar 12 jam setelah tanda birahi pertama muncul (prinsip “AM-PM rule” dalam inseminasi buatan).
3. Pemberian Pakan yang Tidak Seimbang
Kesalahan selanjutnya yang sering terjadi adalah pemberian pakan yang tidak sesuai dengan kebutuhan sapi, terutama bagi sapi betina yang sedang bunting atau menyusui.
Menurut penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM, 2022), kekurangan nutrisi seperti protein, mineral, dan vitamin dapat menghambat perkembangan sel telur, menurunkan tingkat kesuburan, serta menyebabkan keguguran dini.
Solusi:
Pastikan sapi mendapatkan pakan dengan gizi seimbang antara hijauan, konsentrat, dan suplemen mineral. Pemberian air bersih yang cukup juga sangat penting karena dehidrasi bisa mengganggu proses reproduksi.
4. Tidak Melakukan Pemeriksaan Kesehatan Secara Rutin
Banyak peternak yang baru memanggil dokter hewan setelah sapi menunjukkan gejala sakit parah. Padahal, pemeriksaan kesehatan secara rutin bisa mencegah banyak masalah reproduksi seperti infeksi rahim, cacingan, atau gangguan hormonal.
Menurut Pusat Veteriner Farma (Pusvetma, 2023), pemeriksaan kesehatan minimal dilakukan setiap tiga bulan sekali untuk memastikan organ reproduksi sapi dalam kondisi baik.
Solusi:
Bekerjasamalah dengan petugas inseminator atau dokter hewan setempat untuk melakukan pemeriksaan berkala, vaksinasi, dan pemberian obat cacing sesuai jadwal.
5. Penanganan Sapi Pasca Melahirkan yang Kurang Tepat
Setelah sapi melahirkan, banyak peternak yang langsung berfokus pada anak sapi dan mengabaikan induknya. Padahal, masa pasca melahirkan (post partus) sangat penting untuk memulihkan kondisi induk agar siap bunting kembali.
Kesalahan umum seperti tidak membersihkan sisa plasenta, memberi pakan terlalu sedikit, atau tidak memperhatikan tanda infeksi rahim bisa membuat sapi lama tidak birahi lagi (sumber: FAO, 2021).
Solusi:
Pastikan sapi mendapatkan pakan bergizi tinggi setelah melahirkan. Bersihkan kandang dan peralatan agar tetap higienis. Bila sapi mengalami infeksi atau keluarnya cairan abnormal, segera konsultasikan dengan petugas medis hewan.
6. Mengabaikan Faktor Genetik
Banyak peternak yang memilih pejantan hanya berdasarkan ukuran tubuh atau warna bulu tanpa mempertimbangkan kualitas genetik. Padahal, genetik memiliki pengaruh besar terhadap kualitas keturunan seperti pertumbuhan cepat, ketahanan penyakit, dan produksi susu.
Menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI, 2022), penggunaan pejantan unggul bisa meningkatkan produktivitas keturunan hingga 25%.
Solusi:
Gunakan semen beku dari pejantan unggul bersertifikat, yang dapat diperoleh dari Balai Inseminasi Buatan (BIB) resmi. Hindari kawin silang sembarangan karena bisa menurunkan mutu genetik ternak.
7. Tidak Memperhatikan Umur dan Kondisi Fisik Sapi
Kesalahan lainnya adalah mengawinkan sapi yang terlalu muda atau terlalu tua. Sapi betina yang belum siap secara fisik berisiko mengalami kesulitan melahirkan, sementara sapi tua memiliki tingkat kesuburan rendah.
Idealnya, sapi betina mulai dikawinkan pada usia 18–24 bulan dengan bobot minimal 250 kg (Sumber: Badan Litbang Pertanian, 2023).
Solusi:
Pastikan sapi berada dalam kondisi sehat dan cukup umur sebelum dikawinkan. Lakukan pemeriksaan reproduksi terlebih dahulu untuk memastikan tidak ada gangguan hormonal.
8. Kondisi Kandang yang Tidak Mendukung Reproduksi
Kandang yang kotor, lembab, dan sempit bisa menurunkan kenyamanan sapi dan memengaruhi siklus reproduksi. Selain itu, stres akibat lingkungan yang tidak nyaman bisa menghambat munculnya birahi.
Menurut Dinas Peternakan Jawa Tengah (2023), sapi yang dipelihara di lingkungan bersih dan nyaman memiliki tingkat birahi 30% lebih tinggi dibanding sapi di kandang yang kotor dan panas.
Solusi:
Pastikan ventilasi kandang baik, pencahayaan cukup, dan suhu tidak terlalu panas. Bersihkan kandang setiap hari dan sediakan alas kering untuk kenyamanan sapi.
9. Salah Penanganan Saat Inseminasi Buatan
Inseminasi buatan (IB) adalah teknik pembiakan modern yang banyak digunakan peternak. Namun, kesalahan dalam proses seperti suhu penyimpanan semen, alat tidak steril, atau waktu pelaksanaan yang tidak tepat bisa menurunkan keberhasilan.
Balai Inseminasi Buatan Singosari (2023) menyebutkan bahwa suhu penyimpanan semen beku harus dijaga di bawah -196°C menggunakan nitrogen cair. Sedikit saja terjadi perubahan suhu, kualitas sperma bisa menurun drastis.
Solusi:
Gunakan jasa inseminator yang sudah bersertifikat. Pastikan peralatan steril dan semen beku disimpan dalam tangki nitrogen yang terjaga suhunya.
10. Tidak Mengevaluasi Hasil Pembiakan
Kesalahan terakhir adalah tidak melakukan evaluasi setelah proses pembiakan. Banyak peternak tidak mengecek apakah sapi benar-benar bunting setelah inseminasi atau tidak. Akibatnya, waktu dan biaya terbuang percuma.
Menurut Kementerian Pertanian (2023), pemeriksaan kebuntingan sebaiknya dilakukan 45–60 hari setelah inseminasi menggunakan metode palpasi rektal atau ultrasonografi.
Solusi:
Catat setiap hasil perkawinan dan lakukan evaluasi berkala. Jika tingkat kebuntingan rendah, cari tahu penyebabnya bersama petugas inseminator untuk memperbaiki manajemen ke depan.
Kesalahan dalam pengelolaan pembiakan sapi sering kali tampak sepele, namun dampaknya sangat besar terhadap produktivitas dan keuntungan peternak. Mulai dari tidak mencatat data reproduksi, salah mendeteksi birahi, hingga pemberian pakan yang tidak tepat — semua bisa menyebabkan rendahnya tingkat kebuntingan.
Dengan memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut dan menerapkan manajemen reproduksi sapi yang baik, peternak dapat meningkatkan efisiensi produksi, menekan biaya, dan menghasilkan keturunan yang lebih unggul.
Intership SMKN 1 Bungo| Putri Ardiana Safara



