Ternak Tani – Kesalahan pertama yang paling sering dilakukan oleh peternak pemula adalah tidak membuat rencana usaha yang jelas. Banyak orang memulai peternakan hanya karena melihat peluang keuntungan tanpa memahami risiko dan kebutuhan awalnya.
Menurut Kementerian Pertanian RI (2024), perencanaan dalam peternakan meliputi pemilihan jenis ternak, lokasi kandang, perhitungan modal, hingga strategi pemasaran hasil ternak.
Tanpa rencana yang matang, peternak seringkali kewalahan di tengah jalan, baik karena kekurangan modal, lahan tidak cocok, atau tidak tahu bagaimana mengelola pakan dan kesehatan ternak.
Tips:
-
Buat rencana bisnis sederhana, mencakup biaya awal, estimasi keuntungan, dan risiko.
-
Konsultasikan dengan penyuluh peternakan atau peternak yang sudah berpengalaman.
-
Gunakan alat bantu seperti template rencana usaha peternakan yang banyak tersedia gratis di internet.
Salah Memilih Jenis Ternak
Banyak pemula tergoda untuk memilih ternak yang sedang “tren”, tanpa memperhatikan kondisi lingkungan dan kemampuan perawatan mereka. Misalnya, memilih beternak kambing etawa di daerah panas tanpa sumber air yang cukup bisa menyebabkan stres pada hewan.
Menurut Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP, 2023), pemilihan jenis ternak sebaiknya didasarkan pada tiga hal:
-
Ketersediaan pakan lokal.
-
Kondisi iklim dan lingkungan.
-
Kemampuan perawatan peternak.
Contoh sederhana:
Jika Anda tinggal di daerah dataran rendah, ayam kampung atau sapi potong mungkin lebih cocok dibanding kambing perah.
Mengabaikan Kualitas Pakan
Kesalahan besar lainnya adalah tidak memperhatikan kualitas dan komposisi pakan. Banyak peternak pemula berpikir bahwa yang penting ternaknya kenyang. Padahal, pakan yang tidak seimbang bisa menyebabkan pertumbuhan lambat dan produksi rendah.
Menurut Jurnal Peternakan Indonesia (2022), 70% keberhasilan usaha peternakan ditentukan oleh manajemen pakan. Pakan yang baik harus mengandung protein, energi, vitamin, dan mineral dalam jumlah seimbang.
Tips praktis:
-
Gunakan kombinasi pakan hijauan (rumput, daun leguminosa) dan pakan konsentrat (dedak, jagung, bungkil kedelai).
-
Pelajari cara fermentasi pakan alami untuk menekan biaya (contoh: campuran EM4, molase, dan bekatul).
Tidak Menjaga Kebersihan Kandang
Kebersihan kandang sering diabaikan oleh peternak baru. Kandang yang kotor menjadi sumber penyakit seperti scabies, cacingan, atau infeksi pernapasan. Selain itu, kondisi kandang yang lembap bisa mempercepat penyebaran bakteri.
Menurut Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH, 2023), kandang sebaiknya dibersihkan minimal dua kali sehari dan dilengkapi dengan sistem drainase yang baik.
Langkah sederhana menjaga kebersihan kandang:
-
Bersihkan kotoran setiap pagi dan sore.
-
Semprot kandang dengan disinfektan alami seperti larutan cuka atau EM4.
-
Pastikan ventilasi udara cukup agar kandang tidak lembap.
Tidak Mengontrol Kesehatan Ternak Secara Rutin
Banyak peternak menganggap ternak sehat selama masih mau makan. Padahal, tanda-tanda awal penyakit sering tidak terlihat jelas. Pemeriksaan kesehatan secara rutin sangat penting untuk mencegah kerugian besar.
Berdasarkan laporan FAO (Food and Agriculture Organization, 2023), penyakit hewan menular dapat menyebabkan kerugian hingga miliaran rupiah setiap tahun di Asia Tenggara.
Tips mencegah penyakit ternak:
-
Lakukan vaksinasi rutin sesuai jadwal.
-
Catat setiap perubahan perilaku hewan.
-
Pisahkan hewan baru untuk karantina minimal 14 hari sebelum digabungkan dengan ternak lama.
Tidak Mencatat Keuangan dan Produksi
Peternak pemula sering mengabaikan pencatatan keuangan. Akibatnya, mereka tidak tahu apakah usahanya untung atau rugi. Padahal, pencatatan sederhana bisa membantu mengevaluasi efisiensi dan menentukan langkah berikutnya.
Menurut Bank Indonesia (2024) dalam panduan UMKM peternakan, catatan keuangan minimal harus mencakup:
-
Jumlah pakan yang digunakan.
-
Jumlah ternak yang lahir, mati, atau dijual.
-
Biaya operasional harian.
Dengan catatan ini, peternak bisa mengetahui biaya per ekor ternak dan menghitung margin keuntungan dengan mudah.
Tidak Mencari Ilmu dan Pelatihan Tambahan
Peternakan bukan sekadar memberi makan dan menunggu panen. Dunia peternakan terus berkembang dengan teknologi baru seperti pakan fermentasi, sistem kandang modern, dan digital farming.
Kesalahan umum peternak pemula adalah merasa cukup dengan pengalaman seadanya. Padahal, mengikuti pelatihan dan belajar dari sumber tepercaya bisa meningkatkan hasil hingga 2 kali lipat.
Sumber belajar yang direkomendasikan:
-
Website resmi Kementerian Pertanian (pertanian.go.id).
-
Channel YouTube Peternakan Indonesia.
-
Komunitas peternak lokal atau forum daring seperti Ternaknesia dan Peternakpedia.
Terlalu Cepat Ingin Untung
Peternakan adalah bisnis jangka menengah hingga panjang. Banyak pemula yang ingin cepat panen dan untung besar, sehingga mengabaikan proses perawatan yang benar. Akibatnya, ternak tidak tumbuh optimal dan hasilnya mengecewakan.
Menurut Prasetyo (2022) dalam buku Sukses Beternak Modern, kunci utama dalam peternakan adalah kesabaran dan konsistensi. Hasil besar tidak datang dalam hitungan minggu, melainkan berbulan-bulan bahkan tahun.
Saran:
Jadikan setiap tahap sebagai proses belajar, bukan sekadar mengejar hasil. Fokus pada perawatan, kualitas, dan peningkatan keterampilan.
Tidak Membangun Jaringan dan Pemasaran
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah tidak memikirkan pemasaran sejak awal. Banyak peternak kebingungan saat hasil ternak siap dijual karena belum memiliki jaringan pembeli.
Dalam laporan Kementerian Koperasi dan UKM (2023), lebih dari 40% UMKM peternakan di Indonesia gagal berkembang karena lemahnya jaringan distribusi.
Langkah membangun jaringan:
-
Gabung ke koperasi peternak atau komunitas lokal.
-
Gunakan media sosial (Instagram, Facebook, TikTok) untuk promosi.
-
Bekerja sama dengan rumah makan, pasar tradisional, atau toko daging online.
Tidak Memanfaatkan Teknologi Peternakan
Di era digital saat ini, teknologi bisa membantu peternak dalam banyak hal. Sayangnya, banyak pemula yang masih menggunakan cara tradisional tanpa memanfaatkan alat bantu modern.
Contohnya, menggunakan aplikasi seperti Ternaknesia, Livestock Monitoring App, atau SmartFarm dapat membantu mencatat kesehatan, jadwal vaksin, dan perhitungan pakan secara otomatis.
Menurut TechforID (2024), adopsi teknologi pertanian dan peternakan mampu meningkatkan efisiensi hingga 30% dan menekan biaya produksi secara signifikan.
Belajar dari Kesalahan untuk Sukses Lebih Cepat
Menjadi peternak sukses bukan berarti tidak pernah salah, tetapi mampu belajar dari kesalahan dan memperbaikinya. Dengan menghindari sepuluh kesalahan umum di atas — mulai dari perencanaan, pemilihan ternak, hingga penggunaan teknologi — Anda bisa mempercepat langkah menuju peternakan yang produktif dan berkelanjutan.
Ingat, peternakan adalah perjalanan belajar yang panjang, bukan perlombaan cepat-cepat untung. Bekali diri dengan ilmu, pengalaman, dan semangat pantang menyerah — karena keberhasilan sejati datang dari proses yang dijalani dengan konsisten dan cerdas.
Intership SMKN 1 Bungo | Ahmad Sarino



