Ternak tani – Bisnis ternak kambing merupakan salah satu sektor agribisnis yang menjanjikan di Indonesia. Permintaan terhadap daging kambing dan produk olahannya terus meningkat setiap tahun, terutama menjelang hari raya keagamaan seperti Idul Adha dan Idul Fitri. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS, 2024), konsumsi daging kambing di Indonesia naik sekitar 7% dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain itu, kambing memiliki siklus reproduksi yang cepat, sehingga perputaran modal juga lebih singkat. Dalam waktu 12–15 bulan, kambing betina bisa melahirkan 2 kali dengan jumlah anak 1–3 ekor per kelahiran. Inilah yang membuat bisnis ternak kambing cocok dijadikan sumber penghasilan jangka panjang.
Langkah 1: Menentukan Tujuan dan Jenis Ternak Kambing
Sebelum memulai, tentukan terlebih dahulu tujuan utama usaha kamu. Apakah untuk:
-
Produksi daging (kambing potong) – cocok memilih jenis kambing seperti Kambing Boer atau Kambing Kacang.
-
Produksi susu (kambing perah) – bisa memilih Kambing Etawa atau Saanen.
-
Pembibitan (breeding) – fokus pada menghasilkan anakan kambing unggul.
Menentukan arah bisnis di awal akan membantu kamu membuat strategi yang lebih fokus, baik dalam hal pemilihan bibit, perawatan, hingga pemasaran.
Langkah 2: Menyiapkan Modal dan Rencana Usaha
Banyak orang berpikir usaha ternak kambing membutuhkan modal besar. Padahal, kamu bisa memulainya dari skala kecil, misalnya 5–10 ekor kambing terlebih dahulu.
Berikut perkiraan modal awal skala kecil (harga rata-rata 2025):
| Komponen | Perkiraan Biaya |
|---|---|
| Pembelian bibit (10 ekor) | Rp15.000.000 |
| Pembuatan kandang | Rp5.000.000 |
| Pakan dan vitamin 3 bulan | Rp2.500.000 |
| Tenaga kerja dan perawatan | Rp2.000.000 |
| Lain-lain | Rp500.000 |
| Total | Rp25.000.000 |
Kamu bisa menyesuaikan modal sesuai lokasi dan target pasar. Buat juga rencana bisnis sederhana yang mencakup tujuan, strategi pemasaran, dan analisis keuntungan. Menurut Kementerian Pertanian RI (2023), perencanaan yang baik bisa meningkatkan efisiensi usaha hingga 30%.
Langkah 3: Membangun Kandang yang Nyaman dan Efisien
Kandang adalah elemen penting dalam bisnis peternakan kambing. Fungsinya bukan hanya sebagai tempat tinggal, tapi juga menjaga kesehatan kambing dan memudahkan pengawasan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat membuat kandang:
-
Lokasi kandang: jauh dari pemukiman tapi mudah diakses.
-
Ventilasi: pastikan sirkulasi udara lancar agar tidak lembab.
-
Jenis lantai: gunakan bambu atau kayu agar kotoran bisa jatuh ke bawah.
-
Ukuran ideal: 1 ekor kambing membutuhkan sekitar 1,2 x 1,5 meter ruang.
Kamu juga bisa menerapkan sistem kandang panggung, karena lebih higienis dan mudah dibersihkan. Berdasarkan panduan dari Balai Penelitian Ternak (Balitnak), kandang panggung dapat menekan risiko penyakit kulit dan kaki hingga 40%.
Langkah 4: Memilih Bibit Kambing yang Unggul
Bibit atau indukan adalah faktor utama dalam menentukan keberhasilan ternak. Untuk pemula, pilihlah kambing yang sehat dan mudah beradaptasi.
Ciri-ciri bibit kambing yang bagus:
-
Badan tegap dan bulu mengkilap.
-
Nafsu makan tinggi.
-
Tidak ada luka, cacat, atau penyakit kulit.
-
Umur ideal untuk indukan betina: 8–12 bulan.
-
Umur ideal untuk pejantan: 1–1,5 tahun.
Jenis kambing yang populer di Indonesia antara lain:
-
Kambing Kacang: tahan penyakit, cocok untuk pemula.
-
Kambing Etawa: menghasilkan susu banyak dan harga jual tinggi.
-
Kambing Boer: cepat besar dan unggul sebagai kambing potong.
Menurut Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH, 2024), pemilihan bibit unggul dapat meningkatkan produktivitas hingga 35%.
Langkah 5: Menyediakan Pakan yang Bergizi dan Cukup
Pakan memegang peranan penting dalam pertumbuhan kambing. Ada dua jenis pakan utama:
-
Pakan hijauan: seperti rumput gajah, daun lamtoro, kaliandra, atau daun singkong.
-
Pakan tambahan (konsentrat): dedak padi, ampas tahu, atau bekatul.
Kambing dewasa umumnya membutuhkan 3–5 kg hijauan per hari. Berikan juga air bersih dan vitamin untuk menjaga daya tahan tubuhnya.
Sumber dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP, 2023) menyebutkan bahwa pemberian pakan berkualitas dan rutin dapat mempercepat bobot kambing hingga 20% lebih cepat dibanding pakan seadanya.
Langkah 6: Menjaga Kesehatan dan Kebersihan Kandang
Kesehatan kambing sangat dipengaruhi oleh kebersihan lingkungan. Bersihkan kandang setiap hari dan ganti alasnya secara berkala agar tidak lembab.
Tips menjaga kesehatan kambing:
-
Mandikan kambing 1–2 kali seminggu.
-
Periksa kondisi tubuh dan nafsu makan setiap hari.
-
Lakukan vaksinasi dan pemberian obat cacing secara rutin.
-
Pisahkan kambing yang sakit agar tidak menulari lainnya.
Menurut FAO (Food and Agriculture Organization), manajemen kebersihan yang baik dapat menurunkan risiko penyakit menular pada ternak hingga 60%.
Langkah 7: Strategi Pemasaran yang Efektif
Dalam bisnis ternak kambing, pemasaran tidak kalah penting dari perawatan. Beberapa strategi yang bisa dilakukan:
-
Pemasaran langsung: jual ke tetangga, pasar hewan, atau rumah makan.
-
Online marketing: manfaatkan media sosial seperti Facebook, Instagram, atau marketplace.
-
Kerjasama dengan rumah potong hewan (RPH) atau pengepul kambing.
-
Menjadi supplier kambing kurban saat musim Idul Adha.
Gunakan foto yang menarik dan informasi lengkap seperti bobot, jenis, dan usia kambing saat promosi online. Berdasarkan data dari Statista (2024), sekitar 68% peternak kecil kini menggunakan platform digital untuk memperluas pasar.
Langkah 8: Hitung Keuntungan dan Rencanakan Pengembangan
Keuntungan dari ternak kambing bisa didapat dari berbagai sumber, seperti:
-
Penjualan kambing jantan dewasa (harga Rp2–4 juta/ekor).
-
Penjualan anakan kambing.
-
Produksi susu kambing (Rp25.000–40.000/liter).
-
Kotoran kambing bisa dijual sebagai pupuk organik.
Jika kamu mampu memelihara 10 ekor kambing dan masing-masing beranak 2 ekor dalam setahun, potensi keuntungannya bisa mencapai Rp10–15 juta per periode, tergantung harga pasar.
Kunci suksesnya adalah disiplin dalam perawatan dan pencatatan keuangan. Catat semua pengeluaran dan pemasukan agar kamu tahu kapan usaha mulai balik modal.
Langkah 9: Terus Belajar dan Beradaptasi
Dunia peternakan selalu berkembang, baik dari sisi teknologi maupun cara pengelolaan. Ikuti pelatihan yang diadakan oleh Dinas Peternakan setempat atau bergabung dengan komunitas peternak kambing di media sosial.
Dengan terus belajar, kamu bisa menemukan cara baru untuk meningkatkan produktivitas dan menekan biaya operasional.
Memulai bisnis ternak kambing dari nol memang membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Namun, jika dijalankan dengan rencana yang matang dan perawatan yang baik, usaha ini bisa menjadi sumber penghasilan yang stabil dan menguntungkan.
Mulailah dari skala kecil, pelajari dasar-dasarnya, lalu kembangkan secara bertahap. Ingat, kesuksesan dalam dunia peternakan bukan ditentukan oleh besarnya modal, melainkan oleh konsistensi, pengetahuan, dan niat untuk berkembang.



