Ternak Tani – Menentukan harga jual sapi bukan hanya soal menebak angka yang terlihat pas di pasar. Ini merupakan bagian penting dari strategi bisnis peternakan agar tetap mendapat keuntungan dan mampu bersaing. Kesalahan dalam menentukan harga bisa membuat peternak rugi, terutama jika biaya produksi lebih tinggi dari harga jual.
Menurut Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (2023), penentuan harga jual sapi perlu mempertimbangkan biaya produksi, permintaan pasar, dan kualitas ternak. Dengan cara ini, peternak dapat memastikan setiap ekor sapi yang dijual memberikan margin keuntungan yang sehat.
Komponen Utama dalam Menentukan Harga Jual Sapi
Sebelum menentukan harga jual sapi, peternak harus memahami komponen yang membentuk biaya total produksi. Berikut beberapa elemen penting yang wajib diperhitungkan:
a. Biaya Pakan
Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan sapi. Menurut data dari Balai Penelitian Ternak (Balitnak, 2022), biaya pakan dapat mencapai 60–70% dari total biaya produksi. Misalnya, jika biaya pakan sapi potong per hari mencapai Rp30.000, maka dalam 6 bulan (180 hari) biayanya mencapai Rp5,4 juta per ekor.
b. Biaya Bibit atau Bakalan
Harga bakalan sapi bervariasi tergantung jenis dan bobotnya. Untuk sapi lokal seperti Sapi Bali, harga bakalan bisa berkisar Rp10–15 juta per ekor, sementara sapi jenis Limosin atau Simental dapat mencapai Rp25–35 juta (sumber: Harga Peternak Nasional, 2024).
c. Biaya Perawatan dan Kesehatan
Termasuk vitamin, obat, vaksinasi, serta tenaga kerja untuk pemeliharaan. Estimasinya sekitar Rp1–2 juta per ekor selama masa penggemukan.
d. Biaya Lain-lain
Meliputi biaya kandang, air, listrik, dan perawatan fasilitas. Meski kecil, komponen ini tetap harus dihitung agar hasil analisis harga lebih akurat.
Sederhana Menghitung Harga Jual Sapi
Berikut rumus sederhana yang dapat digunakan peternak:
Harga Jual = (Total Biaya Produksi per Ekor + Margin Keuntungan) / Bobot Hidup Sapi
Contoh perhitungan:
-
Biaya produksi per ekor = Rp12.000.000
-
Margin keuntungan yang diinginkan = 20% (Rp2.400.000)
-
Bobot hidup sapi = 400 kg
Maka harga jual sapi per kilogram:
(12.000.000 + 2.400.000) / 400 = Rp36.000 per kg bobot hidup
Jika dijual dengan harga Rp36.000/kg dan bobot sapi 400 kg, total pendapatan peternak adalah:
400 x Rp36.000 = Rp14.400.000
Dengan demikian, keuntungan bersih peternak sekitar Rp2,4 juta per ekor.
Sumber: Analisis Kelayakan Usaha Ternak Sapi Potong, BPS 2023
Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Sapi di Pasar
Menentukan harga jual sapi juga perlu melihat faktor eksternal di luar biaya produksi. Berikut faktor-faktor utama yang berpengaruh:
a. Permintaan Pasar
Permintaan sapi cenderung meningkat menjelang Hari Raya Idul Adha, di mana banyak masyarakat membutuhkan sapi kurban. Pada periode ini, harga sapi bisa naik 10–20% dibanding bulan biasa (sumber: Kementerian Perdagangan RI, 2024).
b. Kondisi Kesehatan dan Kualitas Sapi
Sapi dengan tubuh gemuk, sehat, dan bebas penyakit seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) biasanya dihargai lebih tinggi. Pembeli semakin selektif setelah wabah PMK tahun 2022 yang sempat menurunkan kepercayaan pasar (sumber: Antara News, 2023).
c. Jenis dan Ras Sapi
Jenis sapi juga menentukan nilai jual. Misalnya:
-
Sapi Limosin dan Simental memiliki harga tinggi karena bobot besar dan daging tebal.
-
Sapi Bali dan PO (Peranakan Ongole) cenderung lebih murah, tetapi lebih tahan terhadap kondisi tropis dan cocok untuk peternak kecil.
d. Lokasi dan Biaya Transportasi
Biaya pengiriman sapi dari peternakan ke tempat penjualan juga berpengaruh terhadap harga jual akhir. Peternak yang jauh dari pasar besar perlu memperhitungkan ongkos transportasi agar tidak menggerus margin keuntungan.
Strategi Menentukan Harga yang Kompetitif
Selain menghitung biaya, peternak perlu menerapkan strategi agar harga jual tetap kompetitif dan menguntungkan.
a. Bandingkan dengan Harga Pasar Lokal
Sebelum menentukan harga, lakukan survei di pasar sekitar. Data harga sapi potong terbaru bisa dilihat melalui situs resmi seperti harga.pertanian.go.id atau platform seperti Agrozoo dan Tokoternak.id yang memantau harga ternak nasional.
b. Gunakan Sistem Timbang Langsung
Harga jual sebaiknya berdasarkan bobot hidup (live weight) agar lebih transparan dan menguntungkan kedua pihak. Hal ini juga mengurangi potensi perdebatan antara pembeli dan penjual.
c. Tentukan Margin Wajar
Margin keuntungan ideal berkisar 15–25% dari total biaya produksi. Jika terlalu tinggi, sapi sulit terjual. Jika terlalu rendah, usaha sulit berkembang.
d. Perhatikan Waktu Penjualan
Waktu terbaik menjual sapi adalah ketika permintaan naik, seperti menjelang Idul Adha atau saat acara hajatan ramai di daerah. Menunda penjualan terlalu lama bisa menambah biaya pakan dan menurunkan efisiensi.
Menambah Nilai Jual Sapi dengan Inovasi
Agar harga jual lebih menguntungkan, peternak bisa melakukan beberapa inovasi berikut:
a. Penggemukan Intensif (Feedlot)
Sistem penggemukan intensif dengan pakan berkualitas tinggi dapat meningkatkan bobot sapi hingga 1–1,2 kg per hari (sumber: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2023). Semakin berat bobot hidup sapi, semakin tinggi harga jualnya.
b. Branding Peternakan
Peternak bisa membangun merek atau citra peternakan yang terpercaya. Misalnya, mencantumkan label “Sapi Sehat Bebas PMK” atau “Pakan Hijauan Organik” untuk meningkatkan kepercayaan pembeli.
c. Penjualan Online
Platform digital seperti Shopee, Tokopedia, dan marketplace khusus peternak kini menyediakan fitur jual-beli ternak. Dengan cara ini, peternak bisa menjangkau pembeli dari luar daerah dengan harga lebih baik.
Menentukan harga jual sapi yang menguntungkan memerlukan perhitungan yang matang. Peternak harus memperhitungkan biaya produksi, margin keuntungan, serta kondisi pasar dan kualitas sapi. Selain itu, strategi seperti waktu penjualan yang tepat, survei harga pasar, dan inovasi pemasaran digital bisa membantu meningkatkan keuntungan.
Intership SMKN 1 Bungo | Putri Ardiana Safara



