Gubuku – Buat kamu yang lagi mengelola bisnis peternakan ayam broiler modern, pasti udah familiar sama istilah Kandang Closed House. Sistem kandang tertutup ini emang jadi pilihan favorit anak muda karena iklim di dalam kandang bisa diatur sesuai kebutuhan ayam.
Nah, kunci utama dari kesuksesan kandang closed house itu ada di sistem ventilasi tunnel-nya (Tunnel System). Konsep sederhananya mirip kayak terowongan angin: udara segar ditarik dari satu sisi (depan) dan ditiupkan ke seluruh ruangan sampai keluar di sisi lainnya (belakang) menggunakan exhaust fan.
Kalau setelan anginnya pas, ayam bakal merasa nyaman, lahap makan, dan bobotnya cepet naik. Tapi kalau salah atur, siap-siap ayam bisa stres atau bahkan kena masalah pernapasan! Supaya gak keliru, ini dia panduan step-by-step cara mengatur ventilasi tunnel system yang benar.
1. Pahami Prinsip Kecepatan Angin (Wind Chill Effect)
Ayam itu gak punya kelenjar keringat kayak manusia. Cara mereka mendinginkan tubuh adalah lewat hembusan angin yang lewat di atas bulunya—efek ini disebut wind chill effect.
-
Target Kecepatan Angin: Untuk ayam usia dewasa (di atas 21 hari), kecepatan angin ideal ada di rentang 2,0 – 2,5 meter per detik (m/s).
-
Sesuaikan Usia Ayam: Anak ayam umur 1–7 hari (masa brooding) belum butuh angin kencang. Justru mereka butuh hangat! Jangan nyalakan kipas besar terlalu banyak di fase awal ini biar ayam gak kedinginan.
2. Atur Inlets & Cooling Pad dengan Benar
Inlet (lubang udara masuk) yang biasanya terpasang tirai cooling pad (evaporative cooling system) berfungsi buat mendinginkan udara panas dari luar sebelum masuk ke kandang.
-
Buka Tirai Secara Proporsional: Pastikan luasan inlet seimbang sama jumlah kipas yang menyala. Kalau kipas nyala banyak tapi inlet bukanya cuma sedikit, bakal terjadi tekanan udara negatif berlebih yang bikin kipas kerja keras tapi anginnya gak jalan lancar.
-
Jadwal Pompa Air Cooling Pad: Nyalakan air cooling pad hanya saat suhu udara di luar kandang mulai panas (biasanya di atas 28°C atau jam 10 pagi ke atas). Jangan nyalakan air pas malam hari atau saat kelembapan udara luar lagi tinggi.
3. Kombinasikan Nyala Kipas (Exhaust Fan) Secara Bertahap
Jangan langsung geber semua kipas dari hari pertama, ya! Atur manajemen kipas berdasarkan fase umur ayam:
| Usia Ayam | Fokus Utama | Pengaturan Kipas |
| 0 – 7 Hari | Menjaga kehangatan (Brooding) | Kipas off atau pakai intermittent timer minimalis cuma buat buang amonia |
| 8 – 14 Hari | Transisi & sirkulasi udara segar | Nyalakan 1–2 kipas secara berkala/intermiten |
| 15 – 21 Hari | Penyesuaian kecepatan angin | Nyalakan 2–4 kipas secara kontinyu |
| > 21 Hari s/d Panen | Maksimalisasi pendinginan & hembusan | Nyalakan seluruh kipas sesuai target kecepatan angin (100% Tunnel Mode) |
4. Pantau Kelembapan Udara (Humidity) & Amonia
Pengaturan ventilasi bukan cuma soal nurunin suhu, tapi juga membuang gas beracun seperti amonia dari kotoran ayam.
-
Kelembapan Ideal: Jagalah kelembapan ruangan di angka 60% – 70%. Kalau kelembapan di dalam kandang di atas 75%, ayam bakal susah mendinginkan tubuhnya meski kipas udah nyala kencang.
-
Cek Gas Amonia: Kalau kamu masuk ke kandang dan mata terasa perih atau bau menyengat, itu tandanya amonia menumpuk. Solusinya: naikkan kapasitas ventilasi minimal (minimum ventilation) buat menyedot keluar gas tersebut.
5. Manfaatkan Otomatisasi Controller (Panel Kontrol)
Anak Gen Z wajib banget manfaatin teknologi biar kerjaan makin efisien! Gunakan climate controller otomatis yang terhubung ke sensor suhu dan kelembapan.
-
Setel suhu target (set point) sesuai dengan grafik standar umur ayam.
-
Biarkan panel secara otomatis mematikan atau menyalakan kipas tambahan ketika suhu ruangan berubah. Kamu tinggal rutin mengecek dan melakukan kalibrasi sensor secara berkala.



