Gubuku – Buat kamu pembudidaya muda dan Gen Z yang mau atau lagi menggeluti bisnis perikanan (akuakultur), pernah gak sih mikirin masalah penumpukan limbah pakan di dasar tambak? Sisa pakan dan kotoran ikan/udang kalau dibiarkan begitu saja bisa bikin air beracun, ternak gampang stres, lalu mati. Rugi parah!
Bukan cuma itu, membuang limbah tambak langsung ke perairan sekitar juga bikin lingkungan makin rusak. Nah, di era sustainable aquaculture sekarang, ada satu teknik budidaya modern yang lagi hits banget karena efisien dan hemat biaya: Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA).
Gimana sih cara kerja sistem IMTA dan kenapa kamu wajib coba metode ini? Yuk, bedah tuntas di artikel ini!
Apa Itu Sistem IMTA?
Secara sederhana, Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA) adalah sistem budidaya perikanan terpadu yang memelihara beberapa spesies organisme laut/air tawar secara bersamaan dalam satu lokasi yang sama.
Tapi ingat, spesies yang dicampur gak sembarangan! Setiap organisme punya tingkatan rantai makanan (trofik) yang berbeda, sehingga sisa pakan atau limbah dari organisme utama justru bisa dimanfaatkan jadi sumber makanan bagi organisme sekunder.
Konsep utamanya simpel: Zero waste! Limbah dari spesies A bakal jadi nutrisi buat spesies B dan C. Jadi, tidak ada yang terbuang sia-sia.
4 Komponen Utama dalam Ekosistem IMTA
Dalam satu area budidaya IMTA, biasanya ada 4 kelompok organisme yang saling melengkapi:
-
Spesies Utama (Fed Species / Top Trophic):
-
Organisme yang diberi pakan secara intensif oleh pembudidaya.
-
Contoh: Ikan Bandeng, Ikan Kakap, Udang Vaname, atau Ikan Nila.
-
-
Spesies Pemakan Partikel / Kotoran Organik (Organic Extractive / Deposit Feeder):
-
Organisme yang memakan sisa pakan mengendap, kotoran ikan, dan partikel halus di dasar tambak/keramba.
-
Contoh: Teripang, Kepiting, atau Kerang-kerangan.
-
-
Spesies Pemakan Nutrisi Terlarut (Inorganic Extractive / Biofilter):
-
Organisme yang menyerap zat anorganik (seperti nitrogen dan fosfor) dari air sisa metabolisme ikan.
-
Contoh: Rumput laut (Kappaphycus alvarezii atau Gracilaria).
-
-
Spesies Filter Feeder:
-
Organisme penyaring yang memakan plankton dan mikroorganisme di dalam air.
-
Contoh: Kerang hijau atau tiram.
-
Cara Kerja Sistem IMTA di Lapangan
Biar lebih bayangin jalannya sistem ini, yuk lihat skenario penerapannya di tambak atau keramba jaring apung (KJA):
-
Kamu ngasih pakan ke Udang Vaname (Spesies Utama).
-
Sisa pakan dan kotoran udang yang jatuh ke dasar tambak langsung dimakan oleh Teripang.
-
Kandungan zat hara/nutrisi terlarut dalam air bakal diserap oleh Rumput Laut sebagai pupuk alami buat tumbuh subur.
-
Hasilnya? Air tambak tetap bersih, risiko penyakit turun, dan kamu bisa panen udang, teripang, sekaligus rumput laut secara bersamaan!
Keuntungan Penerapan IMTA Buat Pembudidaya Gen Z
Kenapa kamu harus beralih ke sistem IMTA dibanding budidaya tunggal (monokultur)? Ini dia alasan kuatnya:
1. Multi-Revenue (Cuan Berlipat)
Daripada cuma panen satu jenis ikan, dengan IMTA kamu bisa dapat panen sampingan seperti rumput laut dan kerang tanpa perlu nambah biaya pakan ekstra.
2. Hemat Biaya Operational & Pakan
Sisa pakan yang tidak termakan spesies utama langsung dimanfaatkan oleh spesies lain. Tingkat efisiensi pakan (Feed Conversion Ratio) jadi jauh lebih hemat.
3. Kualitas Air Terjaga (Bebas Stres)
Rumput laut dan kerang bekerja sebagai biofilter alami yang menyaring racun amonia di dalam air. Air tetap segar, organisme utama tidak gampang stres dan terhindar dari penyakit.
4. Eco-Friendly & Punya Nilai Jual Lebih Tinggi
Konsumen modern dan pasar ekspor sangat menyukai produk perikanan yang dihasilkan dari metode ramah lingkungan (sustainable). Kamu bisa pasarkan produkmu dengan branding hijau (green brand) yang harga jualnya lebih kompetitif.


