Cara Mengelola SDM dalam Usaha Pertanian

Ternaktani
Ternaktani
September 11, 2026 8 Min Read 0

Gubuku –

Cara Mengelola SDM dalam Usaha Pertanian agar Bisnis Makin Produktif

Mengelola SDM dalam usaha pertanian bukan cuma soal mencari orang untuk menanam, merawat, dan memanen tanaman. Di era pertanian modern, sumber daya manusia atau SDM menjadi salah satu faktor penting yang menentukan apakah bisnis pertanian bisa berkembang atau justru jalan di tempat.

Apalagi sekarang banyak anak muda mulai melirik sektor agribisnis. Teknologi semakin mudah digunakan, pemasaran bisa dilakukan lewat media sosial, dan hasil pertanian dapat dijual secara online.

Namun, semua teknologi tersebut tetap membutuhkan manusia yang mampu mengelolanya.

Lalu, bagaimana cara mengelola SDM dalam usaha pertanian yang efektif? Yuk, simak panduan lengkapnya!

Apa Itu SDM dalam Usaha Pertanian?

SDM dalam usaha pertanian adalah orang-orang yang terlibat dalam menjalankan kegiatan bisnis pertanian. Mereka bisa bekerja di bagian produksi, perawatan tanaman, pengelolaan lahan, pemasaran, keuangan, hingga distribusi hasil panen.

Dalam bisnis pertanian skala kecil, satu orang bahkan bisa menjalankan beberapa pekerjaan sekaligus. Sementara pada usaha pertanian yang lebih besar, setiap pekerjaan biasanya memiliki tim khusus.

Intinya, SDM adalah salah satu aset utama dalam bisnis pertanian.

Tanah dan teknologi memang penting, tetapi tanpa orang yang mampu mengelolanya, bisnis pertanian akan sulit berkembang.

Kenapa Pengelolaan SDM Pertanian Itu Penting?

Pengelolaan SDM yang baik dapat membantu usaha pertanian menjadi lebih teratur dan produktif.

Beberapa manfaatnya antara lain:

  • Meningkatkan produktivitas kerja.
  • Mengurangi kesalahan saat proses produksi.
  • Membuat pembagian tugas lebih jelas.
  • Menghemat waktu dan biaya operasional.
  • Meningkatkan kualitas hasil pertanian.
  • Membantu bisnis beradaptasi dengan teknologi.
  • Menciptakan lingkungan kerja yang lebih nyaman.
  • Memudahkan pemilik usaha dalam mengembangkan bisnis.

Bayangkan jika semua pekerja melakukan pekerjaan tanpa pembagian tugas yang jelas. Ada yang mengerjakan hal yang sama, sementara pekerjaan lain justru terlupakan.

Bukannya makin produktif, malah bikin pekerjaan berantakan.

1. Tentukan Kebutuhan SDM Sesuai Skala Usaha

Langkah pertama adalah mengetahui berapa banyak tenaga kerja yang benar-benar dibutuhkan.

Jangan sampai bisnis pertanian baru berjalan kecil tetapi sudah memiliki terlalu banyak pekerja. Sebaliknya, jangan juga memaksakan sedikit orang mengerjakan terlalu banyak pekerjaan.

Contohnya, usaha pertanian sayuran skala kecil mungkin membutuhkan:

  • 1 orang untuk mengatur produksi.
  • 1–2 orang untuk perawatan tanaman.
  • Beberapa tenaga tambahan saat panen.
  • 1 orang untuk pemasaran dan pencatatan keuangan.

Jumlah tersebut tentunya bisa berubah sesuai luas lahan dan jenis komoditas.

Kuncinya adalah menyesuaikan jumlah tenaga kerja dengan kebutuhan bisnis.

2. Buat Pembagian Tugas yang Jelas

Setiap pekerja sebaiknya mengetahui apa yang harus mereka kerjakan.

Misalnya:

Tim Produksi

  • Menyiapkan lahan.
  • Menanam.
  • Melakukan pemupukan.
  • Mengontrol kondisi tanaman.

Tim Panen

  • Memanen hasil pertanian.
  • Menyortir produk.
  • Mengemas hasil panen.

Tim Pemasaran

  • Mengelola media sosial.
  • Mencari pelanggan.
  • Membuat promosi.
  • Mengelola penjualan online.
Baca Juga  Potensi Tanaman Gadung untuk Diversifikasi Pangan

Dengan pembagian tugas yang jelas, pekerjaan menjadi lebih terarah.

Tidak ada lagi istilah, “Ini sebenarnya tugas siapa?”

3. Rekrut Orang Berdasarkan Skill dan Sikap

Saat merekrut pekerja, jangan hanya melihat pengalaman.

Skill memang penting, tetapi sikap kerja juga tidak kalah penting.

Cari orang yang:

  • Mau belajar.
  • Bertanggung jawab.
  • Bisa bekerja sama.
  • Disiplin.
  • Mau menggunakan teknologi.
  • Mampu berkomunikasi dengan baik.
  • Punya inisiatif.

Untuk beberapa pekerjaan teknis, pengalaman di bidang pertanian tentu menjadi nilai tambah.

Namun, orang yang belum berpengalaman juga bisa berkembang jika memiliki kemauan belajar.

4. Berikan Pelatihan Secara Rutin

Dunia pertanian terus berkembang. Metode produksi, teknologi, pemasaran, dan pengelolaan bisnis terus mengalami perubahan.

Karena itu, pekerja juga perlu mendapatkan pelatihan.

Pelatihan tidak harus selalu mahal.

Pemilik usaha bisa mengadakan pelatihan sederhana tentang:

  • Cara menggunakan alat pertanian.
  • Teknik budidaya tanaman.
  • Penggunaan pupuk yang tepat.
  • Pengendalian hama.
  • Standar kualitas hasil panen.
  • Pengemasan produk.
  • Pemasaran digital.
  • Penggunaan aplikasi pencatatan keuangan.

Bahkan tutorial online bisa menjadi bahan belajar tambahan.

Skill pekerja meningkat, bisnis juga ikut naik level.

5. Manfaatkan Teknologi untuk Mengelola SDM

Gen Z pasti sudah tidak asing dengan teknologi. Nah, teknologi juga bisa digunakan dalam pengelolaan SDM pertanian.

Contohnya:

  • Grup WhatsApp untuk komunikasi tim.
  • Google Sheets untuk jadwal kerja.
  • Aplikasi absensi untuk mencatat kehadiran.
  • Aplikasi keuangan untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran.
  • Kalender digital untuk mengatur jadwal tanam dan panen.

Dengan teknologi sederhana, pengelolaan pekerjaan bisa menjadi lebih rapi.

Tidak harus langsung menggunakan sistem yang mahal dan rumit.

Mulai dari teknologi yang mudah digunakan dan benar-benar dibutuhkan.

6. Buat Sistem Kerja yang Teratur

Usaha pertanian sangat bergantung pada waktu.

Telat melakukan penyiraman, pemupukan, pengendalian hama, atau panen bisa berdampak pada kualitas produk.

Karena itu, buat jadwal kerja yang jelas.

Contohnya:

Kegiatan Waktu Penanggung Jawab
Penyiraman Pagi & sore Tim Produksi
Pengecekan tanaman Setiap hari Supervisor
Pemupukan Sesuai jadwal Tim Produksi
Pengendalian hama Sesuai kondisi Tim Produksi
Panen Sesuai umur tanaman Tim Panen
Pengemasan Setelah panen Tim Packing

Jadwal sederhana seperti ini bisa membantu pekerjaan menjadi lebih terkontrol.

7. Terapkan Komunikasi yang Terbuka

Masalah di tempat kerja sering kali bukan karena orangnya tidak mampu, tetapi karena komunikasi yang kurang baik.

Pemilik usaha sebaiknya tidak hanya memberikan perintah.

Dengarkan juga masukan dari pekerja.

Orang yang setiap hari berada di lahan biasanya mengetahui kondisi lapangan secara langsung. Mereka bisa menemukan masalah yang mungkin tidak terlihat oleh pemilik usaha.

Misalnya ada alat yang rusak, tanaman terserang hama, atau metode kerja tertentu ternyata kurang efektif.

Baca Juga  Cara Sukses Bisnis Pertanian Padi untuk Pemula

Komunikasi dua arah dapat membantu menemukan solusi lebih cepat.

8. Berikan Apresiasi kepada Pekerja

Pekerja yang merasa dihargai biasanya lebih termotivasi untuk memberikan hasil terbaik.

Apresiasi tidak selalu harus berupa bonus besar.

Bisa berupa:

  • Bonus berdasarkan target.
  • Penghargaan pekerja terbaik.
  • Ucapan terima kasih.
  • Kesempatan mengikuti pelatihan.
  • Jadwal kerja yang lebih fleksibel jika memungkinkan.
  • Kesempatan mendapatkan tanggung jawab lebih besar.

Hal sederhana seperti memberikan apresiasi atas kerja keras dapat meningkatkan semangat tim.

9. Buat Target Kerja yang Realistis

Target sangat penting dalam bisnis pertanian.

Namun, target harus masuk akal.

Jangan membuat target tinggi hanya agar terlihat ambisius.

Contohnya, target bisa berupa:

  • Persentase tanaman hidup.
  • Jumlah produksi per periode.
  • Tingkat produk yang memenuhi standar kualitas.
  • Jumlah pelanggan baru.
  • Penurunan tingkat kerusakan produk.
  • Ketepatan waktu panen.

Dengan target yang jelas, pekerja bisa mengetahui apa yang harus dicapai.

10. Terapkan Sistem Evaluasi

Evaluasi tidak harus dilakukan setiap hari.

Pemilik usaha bisa melakukan evaluasi mingguan atau bulanan.

Beberapa hal yang dapat dievaluasi:

Produktivitas
Apakah pekerjaan selesai sesuai target?

Kualitas
Apakah hasil pertanian sesuai standar?

Kedisiplinan
Apakah jadwal kerja sudah dijalankan dengan baik?

Kerja sama
Apakah tim mampu bekerja dengan kompak?

Masalah
Apa kendala yang terjadi selama proses produksi?

Evaluasi membantu bisnis mengetahui apa yang sudah berjalan baik dan apa yang perlu diperbaiki.

11. Ciptakan Lingkungan Kerja yang Nyaman

Lingkungan kerja sangat berpengaruh terhadap produktivitas.

Usaha pertanian memang memiliki pekerjaan fisik yang cukup berat. Karena itu, aspek keselamatan dan kenyamanan pekerja perlu diperhatikan.

Pastikan pekerja memiliki:

  • Alat kerja yang sesuai.
  • Perlengkapan keselamatan jika diperlukan.
  • Tempat istirahat yang layak.
  • Air minum yang cukup.
  • Informasi penggunaan alat dan bahan secara aman.
  • Waktu istirahat yang wajar.

Pekerja yang sehat dan nyaman tentu lebih siap menjalankan tugasnya.

12. Siapkan Pemimpin atau Supervisor

Ketika bisnis semakin besar, pemilik usaha tidak mungkin mengawasi semuanya sendiri.

Di sinilah peran supervisor menjadi penting.

Supervisor dapat bertugas untuk:

  • Mengawasi pekerjaan tim.
  • Membagi tugas.
  • Mengecek kualitas pekerjaan.
  • Melaporkan masalah.
  • Membantu menyelesaikan konflik.
  • Memastikan target tercapai.

Dengan adanya supervisor, pemilik usaha bisa lebih fokus pada strategi bisnis.

13. Berikan Kesempatan untuk Berkembang

SDM bukan hanya tenaga kerja. Mereka juga bisa menjadi bagian dari perkembangan bisnis.

Berikan kesempatan kepada pekerja untuk meningkatkan kemampuan.

Misalnya pekerja bagian produksi yang memiliki kemampuan komunikasi bisa diberi kesempatan membantu pemasaran.

Atau pekerja yang tertarik dengan teknologi dapat belajar menggunakan sistem pertanian digital.

Dengan cara ini, bisnis memiliki tim yang semakin kompeten.

Tantangan Mengelola SDM dalam Usaha Pertanian

Mengelola SDM pertanian juga memiliki berbagai tantangan.

Beberapa di antaranya adalah:

1. Keterbatasan Tenaga Kerja

Tidak semua daerah memiliki tenaga kerja pertanian yang cukup. Solusinya bisa dengan meningkatkan efisiensi dan menggunakan teknologi untuk pekerjaan tertentu.

Baca Juga  Sistem Irigasi Tetes (Drip Irrigation): Hemat Air dan Tenaga

2. Perbedaan Kemampuan

Setiap pekerja memiliki kemampuan yang berbeda. Pelatihan dan pembagian tugas berdasarkan skill dapat membantu mengatasi masalah ini.

3. Pekerjaan Bersifat Musiman

Kebutuhan tenaga kerja bisa meningkat saat musim tanam atau panen.

Untuk mengatasinya, bisnis dapat menyiapkan tenaga kerja tambahan sesuai kebutuhan.

4. Adaptasi Teknologi

Tidak semua pekerja langsung terbiasa menggunakan teknologi.

Karena itu, lakukan pelatihan secara bertahap dan pilih teknologi yang mudah digunakan.

Strategi Mengelola SDM Pertanian untuk Gen Z

Generasi muda memiliki peluang besar untuk masuk ke bisnis pertanian.

Namun, pengelolaan SDM juga perlu mengikuti perkembangan zaman.

Beberapa strategi yang bisa diterapkan adalah:

Gunakan teknologi.
Kurangi pekerjaan administratif yang bisa dilakukan secara digital.

Bangun budaya kerja yang terbuka.
Pekerja muda biasanya lebih nyaman dengan komunikasi yang transparan.

Berikan ruang untuk berkembang.
Jangan hanya memberikan pekerjaan rutin. Berikan kesempatan untuk belajar skill baru.

Gunakan media sosial.
Selain untuk pemasaran, media sosial juga bisa digunakan untuk membangun branding bisnis dan menarik tenaga kerja muda.

Fokus pada hasil, bukan sekadar aktivitas.
Yang penting bukan hanya berapa lama seseorang bekerja, tetapi seberapa efektif pekerjaan tersebut dilakukan.

Kesalahan yang Harus Dihindari dalam Mengelola SDM Pertanian

Ada beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari.

Tidak Ada Pembagian Tugas

Semua orang mengerjakan semuanya. Akibatnya pekerjaan tidak terkontrol.

Tidak Memberikan Pelatihan

Mengharapkan pekerja langsung bisa tanpa diberikan arahan bisa meningkatkan risiko kesalahan.

Komunikasi Satu Arah

Pemilik usaha hanya memberikan perintah tanpa mendengarkan tim.

Tidak Ada Evaluasi

Kesalahan yang sama terus terjadi karena tidak pernah dievaluasi.

Mengabaikan Kesejahteraan Pekerja

Pekerja dipaksa mengejar target tanpa memperhatikan keselamatan dan kondisi kerja.

Tidak Menghargai Kinerja

Kerja keras tidak pernah mendapatkan apresiasi. Lama-kelamaan motivasi pekerja bisa menurun.

Contoh Struktur SDM Usaha Pertanian Sederhana

Untuk usaha pertanian skala menengah, struktur sederhananya bisa seperti berikut:

Pemilik/Manajer
↓
Supervisor Lapangan
↓
Tim Produksi — Tim Panen & Packing — Tim Pemasaran

Sementara bagian administrasi dan keuangan dapat berdiri sendiri atau dirangkap jika skala bisnis masih kecil.

Struktur tersebut tidak harus diterapkan secara kaku. Sesuaikan dengan kebutuhan dan ukuran bisnis.

 

 

penulis : melathi smkn 1o bungo

Related Posts

Budidaya Jamur Kuping sebagai Peluang Usaha
Gubuku-Jamur kuping merupakan salah satu komoditas pangan yang cukup populer...
Read more
Potensi Tanaman Indigofera sebagai Pakan Hijauan
Gubuku-Ketersediaan pakan menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan usaha...
Read more
Potensi Tanaman Serat Kenaf untuk Industri Ramah...
Gubuku-Kenaf merupakan tanaman penghasil serat yang memiliki nama ilmiah Hibiscus...
Read more

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *