Gubuku –
Cara Mengelola SDM dalam Usaha Pertanian agar Bisnis Makin Produktif
Banyak orang mengira usaha pertanian cuma soal tanah, bibit, pupuk, dan panen. Padahal, ada satu faktor yang sering banget menentukan apakah bisnis pertanian bisa berkembang atau justru jalan di tempat: SDM atau sumber daya manusia.
Tanpa tim yang solid, teknologi secanggih apa pun bisa kurang maksimal. Sebaliknya, tim yang punya skill, komunikasi, dan motivasi yang baik bisa membuat usaha pertanian jauh lebih produktif.
Apalagi sekarang pertanian sudah semakin modern. Ada hidroponik, smart farming, marketplace, sensor, drone, hingga pemasaran lewat media sosial. Artinya, kebutuhan tenaga kerja di sektor pertanian juga ikut berubah.
Lalu, bagaimana cara mengelola SDM dalam usaha pertanian? Yuk, simak sampai selesai!
Apa Itu SDM dalam Usaha Pertanian?
SDM dalam usaha pertanian adalah semua orang yang terlibat dalam menjalankan kegiatan bisnis pertanian, mulai dari proses produksi hingga pemasaran.
Contohnya:
- Petani dan pekerja kebun
- Pengelola lahan
- Teknisi alat pertanian
- Admin dan bagian keuangan
- Tim pemasaran
- Pengemasan dan distribusi
- Supervisor atau manajer usaha
Jadi, SDM bukan cuma orang yang turun langsung ke sawah atau kebun. Semua orang yang berkontribusi terhadap jalannya bisnis termasuk bagian dari SDM.
Kenapa Pengelolaan SDM Itu Penting?
Usaha pertanian punya tantangan yang cukup unik. Pekerjaan bisa dipengaruhi cuaca, musim, kondisi tanaman, harga pasar, hingga permintaan konsumen.
Kalau pembagian kerja tidak jelas, masalah kecil bisa berubah menjadi kerugian.
Misalnya, tidak ada orang yang bertanggung jawab mengecek tanaman. Hama terlambat diketahui dan akhirnya sebagian tanaman rusak.
Dengan pengelolaan SDM yang baik, setiap anggota tim tahu apa yang harus dilakukan dan kapan harus melakukannya.
Hasilnya?
Kerja lebih terarah, kesalahan bisa dikurangi, dan produktivitas meningkat.
1. Tentukan Tugas Setiap Anggota Tim
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah membuat pembagian tugas yang jelas.
Jangan sampai semua orang mengerjakan hal yang sama, sementara pekerjaan penting lainnya justru tidak ada yang menangani.
Contohnya:
Tim produksi: fokus pada penanaman, perawatan, dan panen.
Tim quality control: memastikan hasil pertanian memenuhi standar.
Tim pemasaran: mencari pelanggan dan mempromosikan produk.
Tim keuangan: mencatat pemasukan, pengeluaran, dan keuntungan.
Dengan pembagian seperti ini, pekerjaan menjadi lebih terstruktur.
2. Rekrut Orang Sesuai Skill
Tidak semua orang harus punya pengalaman bertahun-tahun di bidang pertanian.
Yang penting adalah menyesuaikan kemampuan seseorang dengan pekerjaan yang diberikan.
Misalnya, orang yang jago membuat konten bisa ditempatkan di bagian marketing. Orang yang memahami mesin bisa menangani peralatan pertanian. Sementara orang yang berpengalaman merawat tanaman bisa fokus di bagian produksi.
The right person in the right job bisa membuat pekerjaan jauh lebih efektif.
3. Berikan Pelatihan Secara Rutin
Dunia pertanian terus berkembang. Karena itu, skill pekerja juga harus ikut berkembang.
Pelatihan bisa dilakukan secara sederhana, misalnya:
- Cara menggunakan alat pertanian modern
- Teknik budidaya yang lebih efisien
- Penggunaan teknologi pertanian
- Keselamatan kerja
- Pengelolaan hasil panen
- Digital marketing
- Penggunaan aplikasi pencatatan bisnis
Tidak harus selalu berupa pelatihan mahal. Sharing ilmu secara rutin di internal tim juga bisa memberikan dampak besar.
4. Manfaatkan Teknologi
Gen Z tentu sudah tidak asing dengan teknologi. Nah, teknologi juga bisa digunakan untuk mengelola SDM dalam usaha pertanian.
Misalnya, gunakan aplikasi untuk:
- Mencatat jadwal kerja
- Membuat laporan aktivitas
- Memantau target
- Mencatat hasil panen
- Mengatur stok
- Berkomunikasi dengan anggota tim
Dengan sistem digital, pemilik usaha tidak harus selalu berada di lokasi untuk mengetahui perkembangan pekerjaan.
5. Buat Target yang Jelas
Kerja tanpa target bisa membuat tim kehilangan arah.
Karena itu, buat target yang sederhana tetapi terukur.
Contohnya:
“Dalam satu minggu, tim harus menyelesaikan penanaman 1.000 bibit.”
Atau:
“Tingkat kerusakan hasil panen harus berada di bawah target yang sudah ditentukan.”
Target membuat anggota tim mengetahui apa yang harus dicapai.
Yang tidak kalah penting, target harus realistis. Jangan membuat target terlalu tinggi sampai membuat pekerja merasa terbebani.
6. Bangun Komunikasi yang Terbuka
Masalah di lapangan bisa muncul kapan saja.
Karena itu, komunikasi antara pemilik usaha, manajer, dan pekerja harus berjalan dengan baik.
Jangan hanya memberikan perintah. Dengarkan juga masukan dari orang yang bekerja langsung di lapangan.
Mereka biasanya mengetahui kondisi tanaman, alat, atau lingkungan kerja secara lebih detail.
Komunikasi dua arah bisa membantu menemukan masalah lebih cepat sebelum berubah menjadi kerugian besar.
7. Berikan Apresiasi kepada Pekerja
Pekerja juga manusia. Mereka tentu ingin merasa dihargai.
Apresiasi tidak selalu harus berupa bonus besar.
Hal sederhana seperti:
- Memberikan pujian
- Mengucapkan terima kasih
- Memberikan bonus berdasarkan pencapaian
- Memberikan kesempatan belajar
- Menghargai ide dan masukan
bisa meningkatkan motivasi.
Tim yang merasa dihargai biasanya lebih nyaman dan punya semangat untuk memberikan hasil terbaik.
8. Terapkan Sistem Insentif
Untuk meningkatkan motivasi, usaha pertanian juga bisa menerapkan sistem insentif.
Misalnya, bonus diberikan ketika:
- Target produksi tercapai
- Tingkat kerusakan tanaman rendah
- Penjualan meningkat
- Target pemasaran tercapai
- Pekerjaan selesai tepat waktu
Namun, sistem insentif harus dibuat transparan agar tidak menimbulkan kecemburuan antaranggota tim.
9. Perhatikan Keselamatan Kerja
Pertanian bukan pekerjaan tanpa risiko.
Pekerja bisa berhadapan dengan mesin, alat tajam, pupuk, pestisida, kendaraan, atau kondisi lingkungan yang cukup berat.
Karena itu, keselamatan kerja harus menjadi prioritas.
Sediakan perlengkapan yang sesuai dan berikan pemahaman tentang prosedur keselamatan.
Produktif itu penting, tetapi pulang dengan selamat jauh lebih penting.
10. Evaluasi Kinerja Secara Berkala
Jangan menunggu sampai terjadi masalah besar baru melakukan evaluasi.
Lakukan evaluasi secara rutin, misalnya setiap minggu atau setiap bulan.
Beberapa hal yang bisa dievaluasi:
- Apakah target tercapai?
- Apa kendala terbesar?
- Bagian mana yang paling banyak mengalami masalah?
- Apakah pembagian tugas sudah efektif?
- Apa yang perlu diperbaiki?
- Apakah ada kebutuhan pelatihan tambahan?
Evaluasi bukan berarti mencari siapa yang salah. Tujuannya adalah mencari cara agar sistem kerja menjadi lebih baik.
Kesalahan dalam Mengelola SDM yang Harus Dihindari
Ada beberapa kesalahan yang sering terjadi dalam bisnis pertanian.
Tidak Ada Pembagian Tugas
Semua orang bekerja tanpa jobdesk yang jelas. Akibatnya, pekerjaan bisa tumpang tindih atau malah tidak dikerjakan.
Komunikasi Buruk
Pemilik usaha hanya memberikan instruksi tanpa mendengarkan kondisi di lapangan.
Tidak Memberikan Pelatihan
Pekerja dituntut menggunakan teknologi baru, tetapi tidak diberikan pelatihan.
Tidak Menghargai Pekerja
Kerja keras dianggap sebagai sesuatu yang biasa tanpa apresiasi.
Tidak Ada Evaluasi
Kesalahan yang sama terus berulang karena tidak pernah dicari akar masalahnya.
Tips Mengelola SDM Pertanian untuk Gen Z
Generasi muda punya peluang besar untuk membawa perubahan di dunia pertanian.
Kalau kamu ingin membangun bisnis pertanian dengan tim yang lebih modern, coba terapkan beberapa cara berikut:
Gunakan komunikasi digital.
Manfaatkan grup chat atau platform kerja untuk koordinasi.
Buat pekerjaan lebih fleksibel jika memungkinkan.
Tidak semua pekerjaan pertanian harus dilakukan secara manual dan konvensional.
Gunakan data.
Jadikan data produksi, penjualan, dan biaya sebagai dasar pengambilan keputusan.
Buka kesempatan belajar.
Berikan ruang bagi anggota tim untuk mempelajari teknologi dan skill baru.
Bangun budaya kerja yang positif.
Buat lingkungan kerja yang membuat orang merasa dihargai dan punya kesempatan berkembang.
penulis : melathi smk 10 bungo


