Gubuku – Membuat pakan fermentasi buat ternak—mulai dari ayam, kambing, sampai ikan—memang jadi trik andalan buat menekan biaya pakan harian. Selain lebih hemat, pakan hasil fermentasi juga kaya nutrisi dan bikin sistem pencernaan hewan ternak jadi makin sehat.
Tapi, masalah klasik yang sering banget bikin pemula gagal total adalah pakan gampang berjamur, berbau busuk, dan menggumpal. Penyebab utamanya simpel: kadar airnya terlalu tinggi! Kondisi yang terlalu becek memicu tumbuhnya jamur pembusuk dan bakteri jahat yang bikin pakan malah berbahaya buat dikonsumsi ternak.
Biar pakan buatanmu awet berbulan-bulan dan bebas racun, yuk pelajari cara menghitung kadar air pakan fermentasi yang pas dan akurat berikut ini!
Berapa Kadar Air Ideal untuk Pakan Fermentasi?
Sebelum masuk ke rumus hitungan, kamu wajib tahu sweet spot tingkat kebasahan pakan:
-
Standar Ideal: Kadar air untuk proses fermentasi anaerobik (kedap udara) yang sempurna berada di kisaran $30\%\text{–}40\%$.
-
Jika Terlalu Basah ($>50\%$): Pakan akan mengalami pembusukan, berbau menyengat, dan ditumbuhi jamur hitam/hijau yang beracun.
-
Jika Terlalu Kering ($<20\%$): Mikroba/bakteri baik (seperti Lactobacillus) bakal lambat berkembang biak, sehingga proses fermentasi gagal.
Rumus Dasar Menghitung Kadar Air Campuran
Kalau kamu mencampur bahan kering (seperti dedak/katul) dengan bahan basah (seperti ampas tahu atau sayuran), kamu bisa menghitung prediksi kadar air total menggunakan rumus sederhana berikut:
Contoh Simulasi Perhitungan:
Kamu ingin membuat adonan pakan dengan racikan:
-
Dedak Padi Kering: $6\text{ kg}$ (Kadar air bawaan $\approx 10\%$)
-
Ampas Tahu Basah: $4\text{ kg}$ (Kadar air bawaan $\approx 80\%$)
Langkah Hitung:
-
Air dari Dedak = $6\text{ kg} \times 10\% = 0.6\text{ kg}$ air
-
Air dari Ampas Tahu = $4\text{ kg} \times 80\% = 3.2\text{ kg}$ air
-
Total Air = $0.6 + 3.2 = 3.8\text{ kg}$
-
Total Berat Bahan = $6\text{ kg} + 4\text{ kg} = 10\text{ kg}$
Hasil perhitungan menunjukkan $38\%$, angka ini sudah masuk dalam batas aman ideal ($30\%\text{–}40\%$).
Trik Uji Organoleptik (Tanpa Rumus & Tanpa Alat)
Malas menghitung pakai angka? Tenang, kamu bisa pakai metode praktis dengan Uji Kepalan Tangan (Squeeze Test) yang sering dipakai para peternak berpengalaman:
-
Ambil segenggam adonan pakan yang sudah dicampur rata.
-
Kepal adonan tersebut dengan kuat menggunakan tanganmu, lalu buka genggaman.
Indikator Hasil:
-
Terlalu Basah (Bahaya Berjamur): Jika air menetes deras dari sela-sela jari saat dikepal. Solusi: Tambahkan bahan kering seperti dedak atau tepung jagung.
-
Terlalu Kering (Gagal Fermentasi): Jika adonan tidak mau menyatu, gampang buyar/berhamburan, dan telapak tangan terasa benar-benar kering. Solusi: Percikkan sedikit air molase/EM4.
-
Kadar Air Pas ($30\%\text{–}40\%$): Adonan bisa menggumpal rapi, tidak meneteskan air, tapi ketika disentuh perlahan gumpalannya bisa terbelah dengan renyah. Telapak tangan hanya terasa lembap basah.
3 Tips Tambahan Biar Pakan Fermentasi Awet Maksimal
-
Wadah Harus Kedap Udara ($100\%$ Anaerob): Gunakan drum atau kantong plastik tebal. Tekan dan padatkan adonan pakan agar tidak ada rongga udara tersisa di dalam wadah sebelum ditutup rapat.
-
Gunakan Bioaktivator yang Pas: Campurkan larutan EM4 dan molase/gula pasir secukupnya untuk memberi makanan awal bagi bakteri baik.
-
Simpan di Tempat Sejuk: Jauhkan wadah fermentasi dari sengatan sinar matahari langsung dan genangan air hujan.


