Gubuku – Kalau bahas soal bisnis peternakan, Gen Z biasanya langsung kepikiran ayam, bebek, atau kambing. Tapi pernah gak kamu bayangin beternak unggas raksasa alias Burung Unta (Ostrich) di Indonesia?
Meskipun aslinya berasal dari padang savana Afrika, burung unta ternyata punya adaptasi fisik yang kuat banget dan bisa tumbuh subur di iklim tropis Indonesia. Peluang bisnisnya juga masih terbuka lebar karena kompetitornya relatif sedikit, sementara nilai ekonomisnya sangat tinggi—mulai dari daging, telur, bulu, hingga kulitnya (ostrich leather) yang bernilai fantastis.
Buat kamu yang mau tampil beda dan merintis penangkaran unggas raksasa ini, yuk simak trik dan panduan lengkap memulainya berikut ini!
Kenapa Bisnis Burung Unta Sangat Prospektif?
Bukan cuma sekadar burung pajangan di kebun binatang, penangkaran burung unta punya potensi cuan dari ujung kepala sampai ujung kaki:
-
Daging Sehat & Premium: Daging burung unta punya rasa mirip daging sapi, tapi jauh lebih rendah kolesterol dan lemak. Pasar resto mewah dan healthy food makin nyari daging ini.
-
Kulit Super Mewah: Kulit burung unta (ostrich leather) dengan tekstur totol khasnya adalah bahan baku tas, dompet, dan sepatu high-end bernilai jutaan rupiah.
-
Telur & Cangkang Hias: Satu butir telur burung unta beratnya bisa mencapai (setara 20–25 butir telur ayam). Cangkang kosongnya pun bisa dijual ke pengrajin seni untuk diukir.
-
Daya Tahan Fisik Kuat: Burung unta punya sistem imun yang relatif kuat dibanding jenis unggas kecil, serta gak gampang stres kalau area pemeliharaannya tepat.
Trik & Langkah Persiapan Penangkaran Burung Unta
Memelihara burung dengan tinggi mencapai dan berat lebih dari tentu butuh persiapan khusus. Ini dia langkah-langkah utamanya:
1. Desain Kandang & Area Umbaran (Paddock)
Burung unta adalah pelari cepat yang butuh ruang gerak luas agar tidak stres dan otot kakinya berkembang baik:
-
Luas Lahan: Idealnya sediakan area paddock memanjang (minimal per pasang) agar burung bisa berlari lurus.
-
Pagar Pembatas: Gunakan pagar kawat tebal atau kayu yang kokoh dengan tinggi minimal . Jangan gunakan kawat berduri karena bisa melukai kulit tebalnya.
-
Drainase & Penuh Sinar Matahari: Pastikan tanah tidak mudah becek atau tergenang air saat hujan deras.
2. Pemilihan Bibit / Indukan Berkualitas
-
Anakan (Age 2–3 Bulan): Pilihan paling terjangkau buat pemula, tapi butuh perhatian ekstra di pengontrolan suhu dan nutrisi.
-
Calon Indukan (Age 2–3 Tahun): Burung unta mulai matang seksual pada usia sekitar 2–3 tahun. Harga lebih mahal, tapi risikonya lebih rendah dan bisa langsung masuk masa reproduksi.
3. Pola Pakan & Nutrisi Efisien
Meskipun badannya raksasa, pakan burung unta mirip dengan ternak ruminansia:
-
Pakan Hijauan (70%): Rumput odot, rumput gajah, legum, atau daun alfastar/alfaalfa yang dicacah halus.
-
Pakan Konsentrat (30%): Pelet khusus unggas/ruminansia bertarget protein tinggi (), ditambah kalsium tinggi untuk pembentukan cangkang telur yang tebal.
-
Air Minum: Pastikan ketersediaan air bersih selalu ada (ad libitum).
Regulasi & Perizinan di Indonesia
Meskipun burung unta bukan satwa asli Indonesia yang dilindungi undang-undang (seperti Cendrawasih), kamu tetap harus melengkapi perizinan bisnis peternakan umum:
[Izin Tetangga / HO & Desa]
↓
[NIB (Nomor Induk Berusaha) KBLI Peternakan Unggas]
↓
[Pemeriksaan / Karantina Hewan (Untuk Impor Bibit/Indukan)]
↓
[Konsultasi dengan Dinas Peternakan Setempat]


